Sabtu, 29 Maret 2014

Memberikan Makan yang Biasa Ia Makan | Keluarga Sakinah

5. Memberikan Makan yang Biasa Ia Makan

Kewajiban suami selanjutnya adalah memberikan kebutuhan-kebutuhan jasmani, berupa makanan,
minuman, pakaian dan berbagai keperluan khusus wanita. Dan hendaknya pemberian hak mereka
itu tidak diberikan lantaran diminta oleh mereka, karena penunaian hak tersebut merupakan
kewajiban suami yang jika tidak diberikan, ia pasti akan menanggung dosa.


Dari Muawiyah al-Qusyairiy berkata, aku pernah bertanya, “Wahai Rosulullah!, apakah haknya istri
seseorang di antara kami?”. Beliau menjawab, “Engkau memberinya makan jika engkau makan,
engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, jangan memukul wajah(nya), jangan
engkau memburuk-burukkan(nya) dan janganlah engkau menjauhinya kecuali di dalam rumah”.
[HR Abu Dawud: 2142, Ibnu Majah: 1850 dan Ahmad: IV/ 446, 447, V/ 3. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [47] 

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Haknya istri adalah memberinya makan,
pakaian  dan  belanja.  Dan  diharamkan  menahannya  sedikitpun  dari  haknya  tersebut  atau
memberikannya dalam bentuk recehan untuk merendahkannya”.[48]
Dari Muawiyah bin Haydah al-Qusyairiy berkata, “Aku pernah bertanya, “Wahai Rosulullah,
terhadap istri-istri kami apa yang dapat kami lakukan dan yang biarkan?”. Beliau menjawab,
“Datangilah (Jimaklah) ladangmu kapanpun engkau kehendaki, berilah ia makan jika engkau
makan, berilah ia pakaian apabila engkau berpakaian, jangan menjelek-jelekannya dan jangan
engkau memukul (mukanya)”.   [HR Abu Dawud: 2143 dan Ahmad: V/ 3, 5. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [49]

            Dari Muawiyah al-Qusyairiy berkata, aku pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam. Aku berkata, “Apakah yang hendak engkau katakana tentang istri-istri kami?”. Beliau
bersabda, “ Berilah mereka makan dari yang biasa kalian makan, berilah mereka pakaian dari yang
kalian pakai, jangan memukuli mereka dan jangan pula menjelek-jelekkan mereka”. [HR Abu
Dawud: 2144. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [50]
  
            Dari Sa’d bin Abi Waqqosh radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan suatu nafkah dalam
rangka mencari wajah (ridlo) Allah dengannya melainkan engkau akan dibalas dengannya sehingga
sesuatu yang engkau suapkan pada mulut istrimu”. [HR al-Bukhoriy: 56, 1295, 3936, 4409, 5354,
5668, 6373, 6733, Muslim: 1628, dan Ahmad: I/ 172. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [51]

            Dari Abu Mas’ud al-Badriy radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila seorang lelaki menginfakkan suatu nafkah kepada keluarga (istri)nya dalam rangka
mencari ridlo-Nya maka hal itu menjadi sedekah baginya”. [HR al-Bukhoriy: 55, 4006, 5351, Muslim:
1002, an-Nasa’iy: I/ 353 dan ath-Thoyalisiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [52]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Memberi nafkah kepada istri dan anak-anak  itu  hukumnya  wajib.  (Seseorang)  akan  mendapatkan  pahala  dan  ganjaran  dengan
memberikan nafkah kepada keluarganya”.  [53] 

Maka di dalam beberapa hadits di atas, dijelaskan bahwa hak istri atas suami adalah ia memberi
nafkah kepadanya semisal memberi makan istrinya yang biasa ia makan, memberi pakaian dari
yang ia pakai, jika bertengkar dilarang memukul wajahnya atau pukulan yang berbekas atau
memukul lebih dari sepuluh pukulan, tidak menjelek-jelekkan istri kepada orang lain jika ada
ketidak cocokkan, tidak menjauhi istri kecuali di dalam kamar dan sebagainya.
Disqus Comments

Postingan Populer