Sabtu, 29 Maret 2014

Hak Suami Atas Isteri

Hak Suami Atas Isteri 

Sebagaimana telah diketahui bahwasanya setiap orang niscaya mempunyai hak dan kewajiban.
Misalnya seorang wanita telah dipahami bahwa ia mempunyai beberapa hak dan kewajiban. Haknya
istri adalah kewajiban bagi suami untuk menunaikannya kepada istrinya dengan baik. Hak istri ini
biasanya sangat dipegang oleh kaum wanita dan senantiasa berharap dan terkadang menuntut para
suami untuk dapat melaksanakannya sebaik-baiknya. Padahal bagi lelaki mukmin, tanpa diperintah
oleh para istrinyapun ia akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat menunaikan tugasnya sebaik-baiknya, karena hal ini bukan hanya tanggung jawab kepada para istrinya saja tetapi yang terpenting
adalah tanggung jawabnya terhadap perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. [57]


Jika demikian, para suamipun tentu memiliki beberapa hak. Haknya suami adalah kewajiban bagi
kaum istri untuk menunaikan sebaik-baiknya pula. Jika si istri itu adalah seorang wanita mukminah
yang shalihah, maka niscaya ia akan berusaha menunaikan kewajibannya sebaik-baiknya tanpa
dikomando dan dimonitor oleh suaminya. Karena ia paham, jika ia menunaikan hak suaminya maka
yang beruntung adalah dirinya sendiri bukan hanya suaminya saja. Kelak ia akan mendapat balasan
kebaikan dari Allah Azza wa Jalla yang banyak pada hari kiamat.
Diantara dalil-dalil yang menerangkan bahwa suami itu mempunyai hak atas istrinya adalah sebagai
berikut,

Dari Sulaiman bin Amr bin al-Ahwash berkata, Ayahku pernah bercerita kepadaku bahwasanya ia
pernah menyaksikan haji wada’ bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Ingatlah sesungguhnya istri-istri kalian mempunyai hak atas kalian dan kalianpun mempunyai hak
atas istri-istri kalian”. [HR at-Turmudziy: 1163, Ibnu Majah: 1851 dan Ahmad: V/ 72, 73. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [58]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Laki-laki itu mempunyai beberapa hak
dan wanita juga memiliki beberapa hak”. [59]

Dari Qois bi Sa’d berkata, “Aku pernah mendatangi Hirah. [60] Aku melihat mereka sujud kepada
tetua mereka. Aku berkata, “Rosulullah lebih berhak untuk disujudi”. Berkata Qois, “Lalu aku
mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan aku berkata, “Sesungguhnya aku mendatangi
Hirah, lalu aku melihat mereka sujud kepada tetua mereka. Wahai Rosulullah, engkau lebih berhak
jika kami sujud kepadamu”. Beliau bersabda, “Bagaimana pendapatmu, jika engkau melewati
kuburku apakah engkau akan sujud kepadanya?”. Aku berkata, “Tidak”. Beliau bersabda, “Janganlah
kalian berbuat seperti itu, seandainya aku perintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain,
niscaya aku perintahkan kaum wanita untuk sujud kepada suami-suami mereka karena Allah telah
menjadikan untuk mereka ada hak atas istri-istri mereka tersebut”. [HR Abu Dawud: 2140, al-Hakim
dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [61]

Dari Abdullah bin Abu Awfa berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Demi
Dzat  yang  jiwa  Muhammad  berada  pada  genggaman  tangan-Nya,  tidaklah  seorang  wanita
menunaikan hak Rabbnya sehingga ia menunaikan hak suaminya. Meskipun ia meminta dirinya
sedangkan ia berada di atas pelana (untanya) janganlah ia menolaknya”. [HR Ibnu Majah: 1853 dan
Ahmad: IV/ 381, V/ 228. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [62]

Dari Anas bin Malik dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh seorang manusia
untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya diperbolehkan manusia sujud kepad manusia
yang lain, niscaya aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya dari sebab
keagungan  haknya  atas  istrinya.  Demi  Dzat  yang  jiwaku  ada  pada  genggaman  tangan-Nya,
seandainya dari kakinya sampai pangkal kepalanya terdapat luka yang memancarkan nanah dan
nanah yang bercampur darah lalu ia menghadap kepadanya dan menjilatnya, maka belumlah ia menunaikan hak suaminya itu. [HR Ahmad: III/ 158-159, 195. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:
Shahih]. [63]

Dari Mu’adz bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang wanita
mengetahui hak suaminya niscaya ia tidak akan duduk selama makan siang dan malamnya
terhidang sehingga ia selesai darinya”. [HR ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].
[64]

Dalil-dalil di atas menegaskan bahwa suami itu mempunyai beberapa hak atas istrinya. Bahwa
seandainya diperbolehkan seseorang itu sujud kepada orang lain, niscaya Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam akan memerintahkan kaum wanita untuk sujud kepada suaminya masing-masing, hal ini
dikarenakan keagungan hak sang suami atasnya. Begitu pula jika ada wanita yang taat beribadah
kepada Allah ta’ala berupa sholat, puasa, bersedekah dan selainnya dari berbagai ibadah yang
disyariatkan namun ia tidak menunaikan hak suaminya dengan baik maka berarti ia belum
menunaikan hak Allah ta’ala dengan benar dan sempurna.
Bahkan dicontohkan, seandainya dari kaki suaminya sampai pangkal kepalanya itu terdapat luka
yang memancarkan nanah dan juga darah bercampur nanah lalu ia menghadap kepada luka
suaminyanya dan menjilatinya sampai bersih, maka belumlah sang istri itu menunaikan hak
suaminya dengan sempurna. Atau jika seorang istri mengaku sebagai istri atau wanita yang
shalihah, maka tentu ia tidak akan beranjak dari tempat duduknya untuk menemani suaminya
makan siang atau malam yang dihidangkannya itu sampai selesai.
Oleh karena itu, akan dibahas di sini beberapa kewajiban para istri terhadap suami-suami mereka,
di antaranya adalah,
Disqus Comments

Postingan Populer