Sabtu, 29 Maret 2014

Membantu suaminya di dalam perkara dunia dan akhirat | Menggapai Keluarga Sakinah

6. Membantu suaminya di dalam perkara dunia dan akhirat.


Di antara kewajiban istri adalah senantiasa membantu suaminya di dalam perkara dunia dan
akhirat. Membantu suami dalam perkara dunia adalah membantu pekerjaannya selain pekerjaan
rumahnya selama tidak bertentangan dengan agama. Misalnya ikut pergi ke ladang untuk bercocok
tanam, memanen tanaman atau membawa hasilnya ke rumah atau gudang penyimpanannya. Atau
ikut menjaga toko atau warung yang dikelola oleh suaminya dengan aneka jenis pekerjaan berupa
mencatat barang-barang yang keluar dan masuk, menerima dan mengembalikan uang kembalian
dari pembeli atau konsumen dan lain sebagainya. 


Membantu suami dalam perkara agama atau akhirat adalah mengajak suaminya untuk menunaikan
sholat malam berjamaah atau sholat-sholat sunnah lainnya, mengajaknya mengerjakan shaum-shaum sunnah bersama-sama, mendorongnya untuk selalu membantu dan bersilaturrahmi kepada
kedua orang tuanya, memotivasinya untuk senantiasa bersedekah kepada anak-anak yatim, kaum
dluafa dan semisalnya, mengingatkannya untuk selalu berlaku adil kepada para istrinya jika
suaminya itu mempunyai lebih dari satu orang istri, dan lain sebaginya.

Dari Tsauban berkata, ketika turun ayat ((Dan orang-orang yang menyimpan harta emas dan
peraknya… QS. Al-Baro’ah/ 9: 34)). Ia bercerita, “Kami pernah bersama-sama Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam di sebahagian perjalanannya”. Berkata sebahagian shahabat, “Telah diturunkan
(ayat) tentang emas dan perak, kalau kami boleh tahu harta apakah yang paling baik yang kami
harus memilikinya?”. Beliau bersabda, “Yang paling utama (Di dalam suatu riwayat, “Hendaklah
seseorang di antara kalian memiliki”) lisan yang suka berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur dan
istri  shalihah  yang  selalu  membantu  suaminya  dalam  agamanya  (di  dalam  suatu  riwayat,
“membantu seseorang di antara kalian dalam perkara akhirat”). [HR at-Turmudziy: 3094, Ibnu
Majah: 1856 dan Ahmad: V/ 278, 282. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [101]

Dari Abu Umamah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hati yang selalu bersyukur,
lisan yang gemar berdzikir dan istri shalihah yang senantiasa membantumu dalam perkara dunia
dan agamamu adalah sebaik-baik yang disimpan oleh manusia”. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh
al-Albaniy: Shahih]. [102] 

Dalil telah tetap dan tidak akan berubah lagi selamanya, bahwa istri yang shalihah adalah laksana
barang berharga yang tidak dapat dinilai oleh siapapun dengan nilai apapun. Bahkan disebutkan
oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai barang simpanan yang paling baik, yakni lebih
baik dari simpanan emas dan perak, deposito dan barang berharga apapun. Dan di antara sifat istri
yang shalihah adalah membantu suaminya di dalam amalan-amalan dunia dan agama (akhirat)nya.

Dari Abu Adzinah ash-Shodafiy bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik istri kalian adalah yang penyayang, suka melahirkan, gemar memberi dan suka
membantu suaminya apabila mereka bertakwa kepada Allah. Dan seburuk-buruk istri kalian adalah
yang gemar berdandan dan suka mengkhayal. Mereka adalah wanita-wanita munafik, tidak akan
masuk ke dalam surga seseorang di antara mereka melainkan seperti burung gagak yang berleher
dan berparuh merah. [HR al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [103]
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memuji wanita yang menyayangi suami dan anak-anaknya, suka melahirkan, gemar memberi dan suka membantu suaminya dengan sebutan sebaik-baik istri, jika ia bertakwa kepada Allah ta’ala.

Dari  Abu  Hurairah  berkata,  telah  bersabda  Rosulullah  Shallallahu  alaihi  wa  sallam,  “Allah
merahmati seorang wanita yang berdiri di waktu malam untuk sholat dan ia membangunkan
suaminya. Jika ia enggan makan ia perciki wajahnya dengan air”. [HR Abu Dawud: 1308. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [104]
Disqus Comments

Postingan Populer