Sabtu, 29 Maret 2014

Meminta idzin kepada suaminya. | Keluarga Sakinah

4. Meminta idzin kepada suaminya.

   
Meminta idzin adalah perbuatan yang mudah dan sederhana namun sulit untuk dilaksanakan oleh
para istri. Berapa banyak di antara mereka yang mengerjakan berbagai aktifitas semisal berpuasa
sunnah, sholat sunnah, menghadiri kajian-kajian agama, bakti sosial, bersedekah dan sebagainya
dari berbagai jenis ibadah tanpa sepengetahuan dan seidzin suami-suami mereka. Jika dalam
masalah ibadah saja harus minta idzin, maka bagaimana dengan perkara-perkara dunia?. Semisal
melakukan wisata belanja, wisata rekreasi, wisata permainan, wisata kuliner atau semisalnya ke
berbagai kota bahkan negara dengan banyak teman-temannya tanpa sepengetahuan dan meminta
idzin terlebih dahulu kepada suami-suami mereka. Duhai betapa menyedihkan keadaan seperti ini.
Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits berikut ini,


Dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang istri meminta
idzin  kepada  salah  sesorang  kalian  untuk  pergi  menuju  masjid  maka  janganlah  ia
mencegahnya”.[HR al-Bukhoriy: 5238, Muslim: 442 dan Ahmad: II/ 7, 9, 57, 140, 143, 156. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [81]
Jadi seorang wanita, jika hendak pergi ke masjid untuk beribadah sholat atau menghadiri kajian
agama, maka ia mesti meminta idzin kepada suaminya terlebih dahulu. Lalu di samping itu, tidak
ada hak bagi sang suami untuk mencegah istrinya untuk mendatangi masjid karena keperluannya
tersebut.

Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya telah diidzinkan bagi kalian (yaitu para wanita) untuk keluar (dari rumah) untuk
keperluan-keperluan kalian”. [HR al-Bukhoriy: 4795, 5237, Muslim: 2170 dan Ahmad: VI/ 56.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [82]

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu berkata, “Seorang wanita pernah datang menemui Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam sedangkan kami berada di sisinya”. Ia berkata, “Wahai Rosulullah
sesungguhnya suamiku Shofwan bin al-Mu’aththol memukuliku apabila aku sholat, menyuruhku
berbuka jika aku shaum dan ia tidak sholat shubuh kecuali telah terbit matahari”. Berkata Abu Sa’id,
“Sedangkan Sofwan berada di sisinya”. Lalu Beliau bertanya kepadanya tentang apa yang dikatakan
istrinya. Sofwan berkata, “Wahai Rosulullah, adapun ucapannya, “ia memukuliku apabila aku
sholat”. Sesungguhnya ia membaca dua surat padahal aku telah melarangnya”. Berkata  Abu Sa’id,
bersabda Rosulullah, “Seandainya satu surat saja niscaya akan mencukupi manusia”. Adapun
ucapannya, “Menyuruhku berbuka jika aku shaum. Istriku suka shaum sedangkan aku seorang
pemuda maka tentu aku tidak akan sabar”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidak
boleh seorang wanita mengerjakan shaum (sunnah) melainkan dengan seidzin suaminya”. Adapun
ucapannya, “Aku tidak sholat kecuali telah terbit matahari. Kami adalah tulang punggung keluarga,
sungguh-sungguh hal tersebut telah diketahui. Kami tidak dapat bangun tidur hingga terbit
matahari”. Beliau bersabda, “Apabila engkau bangun maka sholatlah”. [HR Abu Dawud: 2459,
Ahmad: III/ 80, al-Hakim: 1636 dan Ibnu Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [83]

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tidak boleh
seorang wanita mengerjakan shaum sedangkan suaminya sedang ada di sisinya kecuali dengan
seidzinnya (selain Ramadlan). Ia tidak boleh mengidzinkan (seseorang masuk) ke dalam rumahnya
sedangkan suaminya ada di sisinya kecuali dengan seidzinnya”. [HR Abu Dawud: 2458, al-Bukhoriy:
2192, 2195, Muslim: 1026, Ibnu Majah: 1761, Ahmad: II/ 316, 444, 464, 476, 500 dan ad-Darimiy:
II/ 12. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [84] 

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Shaum sunnahnya seorang wanita yang
suaminya berada di sisinya disyaratkan dengan idzinnya, karena haknya atas istrinya itu dan ia tidak
boleh melalaikannya. Tidak boleh pula seorang wanita membiarkan masuk seseorang ke dalam
rumah suaminya kecuali dengan idzin dan keridloannya”. [85]

Dari Abu Sa’id berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang para wanita untuk
berpuasa (sunnah) kecuali dengan seidzin para suami mereka”. [HR Ibnu Majah: 1762. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [86]
Dalil-dalil di atas dan penjelasannya dengan gamblang menerangkan bahwa seorang wanita ketika
hendak mengerjakan shaum sunnah semisal shaum senin kamis, shaum bayadl (pertengahan bulan
hijriyah), shaum enam hari di bulan syawal, shaum arafah dan semisalnya selain shaum Ramadlan
maka wajib baginya untuk meminta idzin kepada suami tercintanya ketika suaminya itu ada di
sisinya. Hal tersebut, boleh jadi ketika sang suami mempunyai kebutuhan untuk bersenang-senang
dengannya kapanpun yang suaminya kehendaki, maka ia harus selalu siap sedia dan tidak boleh
melalaikannya.

Begitupun dengan mengerjakan sholat-sholat sunnah, ia mesti meminta idzin kepada suaminya
terlebih dahulu jika sang suami sedang berada di sisinya dan membaca ayat-ayat alqur’an di
dalamnya yang tidak terlalu panjang.

Dari Abu Umamah al-Bahiliy berkata, aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda pada khutbahnya di waktu haji wada’, “Tidak boleh bagi seorang wanita untuk
menginfakkan  sesuatu  sedikitpun  dari  rumah  suaminya  kecuali  dengan  seidzin  suaminya”.
Ditanyakan kepada Beliau, “Wahai Rosulullah, bagaimana dengan makanan?”. Beliau menjawab,
“Makanan itu adalah harta yang paling utama”. [HR at-Turmudziy: 670, 2120 dan Ibnu Majah: 2295.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [87]

Dari Khairah istrinya Ka’b bin Malik, ia pernah mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam
dengan membawa  perhiasannya.  Lalu ia  berkata,  “Sesungguhnya  aku  ingin menyedekahkan
(perhiasan) ini”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Tidak boleh bagi
seorang wanita (untuk menyedekahkan) hartanya kecuali dengan seidzin suaminya, apakah engkau
telah meminta idzin kepada Ka’b?”. Ia menjawab, “Ya”. Lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam
mengutus (seseorang) kepada Ka’b bin Malik suaminya itu. Lalu ia ditanya, “Apakah engkau telah
mengidzinkan  khairah  untuk  menyedekahkan  perhiasannya?”.  Ka’b  menjawab,  “Ya”.  Maka
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallampun menerima (sedekah perhiasan itu) darinya. [HR Ibnu
Majah: 2389, ath-Thohawiy dan Ibnu Mundah. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [88]

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak boleh bagi seorang wanita memberi suatu pemberian kecuali dengan seidzin suaminya”. [HR

Abu Dawud: 3574, an-nasa’iy: V/ 65-66, VI/ 278-279 dan Ahmad: II/ 179, 184, 202. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [89]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa salla bersabda,
“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada di sisinya kecuali dengan
seidzinnya. Tidak boleh baginya mengidzinkan (seseorang masuk) di rumahnya kecuali dengan
seidzinnya. Tidaklah ia menginfakkan sebahagian nafkahnya dengan tanpa perintahnya maka
sesungguhnya suaminya itu akan memperoleh (pahala) separuhnya”. [HR al-Bukhoriy: 5195 dan
Ahmad: II/ 316. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [90] 

Lalu bagaimana dengan sedekah atau memberikan suatu pemberian kepada orang lain?. Maka hal
inipun tidak ada pengecualian. Tidak boleh bagi seorang wanita shalihah untuk memberikan
hartanya atau harta suaminya kepada siapapun tanpa meminta idzin kepada suaminya terlebih
dahulu.
Bahkan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memanggil seorang shahabat yang bernama Ka’b
bin Malik radliyallahu anhu untuk diminta kesaksiannya atas sedekah istrinya Khairah radliyallahu
anha yang menyedekahkan perhiasannya.

Dari Ali bin Abi Thalib berkata, “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang para wanita
berbicara (di rumahnya) kecuali dengan seidzin para suami mereka”. [HR al-Khara’ithiy di dalam
Makarim al-Akhlaq. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [91]
Kemudian juga  Rosulullah Shallallahu alaihi wa  sallam telah  melarang wanita  berbicara  di
rumahnya sendiri ketika suaminya sedang berbicara dengan orang lain kecuali dengan seidzinnya.
Maka dengan landasan dalil-dalil yang telah dikemukan di atas, maka suka ataupun tidak, seorang
istri  itu  mesti  meminta  idzin  kepada  suaminya  dalam  berbagai  hal  sebagai  bentuk
penghormatannya kepada kedudukan suaminya.
Disqus Comments

Postingan Populer