Sabtu, 29 Mac 2014

Mempergauli Isteri dengan Cara yang Baik

4. Mempergauli Isteri dengan Cara yang Baik

Kewajiban  suami  atas  istrinya  adalah  mempergauli  para  istri  dengan  baik.  Dari  cara
memperlakukannya, berbicara dengannya, memperhatikan segala kebutuhannya, berhias dan
berharum-haruman untuknya, menjimaknya dan lain sebagainya.
Hal ini telah diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam ayat berikut,


Dan pergaulilah mereka dengan cara yang ma’ruf/ patut. kemudian bila kamu tidak menyukai
mereka,  (maka  bersabarlah)  karena mungkin  kamu  tidak menyukai sesuatu,  padahal  Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak. [QS an-Nisa/ 4: 19].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Yaitu dengan melembutkan suara kalian,
membaguskan perbuatan dan cara kalian seukuran dengan kesanggupan kalian. Sebagaimana
engkau suka perilaku tersebut darinya, maka berbuatlah engkau seperti itu pula kepadanya”. [32]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Yang
terbaik diantara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya”. [HR at-Turmudziy: 1162,
Ahmad: II/ 250, 472, Ibnu Hibban dan al-Hakim]. [33] 

Berkata  Ibnu  Abbas  radliyallahu  anhuma,  “Sesungguhnya  aku  suka  berhias  kepada  istriku
sebagaimana aku suka ia berhias untukku”. [34] 

Dalil diatas memperingatkan kaum suami untuk selalu mempergauli istri-istri mereka dengan baik.
Berbicara dengan lemah lembut dan santun, memandangnya dengan penuh rasa kasih sayang,
tersenyum kepadanya dengan penuh rasa cinta, membantu berbagai pekerjaannya semampunya,
merutinkan komunikasi dengannya, berusaha memenuhi segala kebutuhannya sesuai dengan
kemampuannya, memberikan perhatian meskipun tanpa diminta olehnya, berhias dan berharum-haruman untuknya, menjimaknya untuk kebutuhannya dan istrinya karena di dalam jimak itu
banyak faidahnya, bersenda gurau dengannya, mengajaknya bersilaturrahmi kepada keluarganya
dan keluarga istrinya dan lain sebagainya dalam rangka berbuat baik kepadanya.
Semua  itu  dilakukan  dalam  rangka  mempererat  hubungan  mereka  berdua,  menambah
keharmonisan berumah tangga dan juga karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memuji
pelakunya sebagai orang yang terbaik akhlaknya. 

Jika suami ingin bertambah dekat dan dicintai oleh istri tercintanya maka hendaklah ia berusaha
dengan kuat untuk memenuhi hak istrinya. Karena istri itu mempunyai hak atasnya sebagaimana
diri, mata, tubuh dan tamunya memiliki hak atasnya. 

Dari Abu Juhaifah bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mempersaudarakan
antara Salman dan Abu ad-Darda’. Ia berkata, “Suatu saat Salman datang kepada Abu ad-Darda’
untuk mengunjunginya. Ia jumpai Ummu ad-Darda’ dalam keadaan berpakaian lusuh. Salman
bertanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Ummu ad-Darda’?”.  Ia menjawab, “Saudaramu yaitu Abu
ad-Darda’ suka berdiri sholat malam, shaum pada siang harinya dan ia tidak menghendaki dunia
sedikitpun”.  Lalu  Abu  ad-Darda’  datang  dan  menyambutnya  dan  menghidangkan  makanan
kepadanya. Salman berkata, “Makanlah!”. Ia menjawab, “Aku sedang shaum”. Salman berkata, “Aku
bersumpah agar engkau berbuka (dari shaummu), aku tidak akan makan sehingga engkau mau
makan”. Lalu iapun makan bersamanya. Kemudian Salman menginap di rumahnya. Ketika waktu
malam, Abu ad-Darda’ ingin menegakkan (sholat malam) lalu Salman mencegahnya seraya berkata,

Wahai Abu Darda’, sesungguhnya jasadmu itu mempunyai hak atasmu, Rabbmu mempunyai hak
atasmu, (tamumu juga ada hak atasmu) dan istrimupun mempunyai hak atasmu. Shaumlah dan
berbukalah, sholatlah dan datangilah (jimaklah) istrimu dan berikan haknya bagi setiap yang
memiliki haknya”.
Ketika mendekati permulaan pagi, Salman berkata, “Sekarang bangunlah (untuk sholat) jika engkau
mau. Abu Juhaifah berkata, “Lalu keduanya bangun, berwudlu dan sholat. Kemudian menuju sholat
(shubuh). Kemudian Abu ad-Darda memberitakan kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam
tentang apa yang diperintahkan Salman kepadanya. Maka Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam
bersabda, “Wahai Abu ad-Darda’, “Sesungguhnya pada jasadmu itu ada hak atasmu, -seperti yang
dikatakan Salman (dalam suatu riwayat, “Salman benar)”. [HR al-Bukhoriy: 1968, 6139, at-Turmudziy:2413, al-Baihaqiy dan Ibnu Asakir]. [35]
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda kepadaku, “Wahai Abdullah, telah dikhabarkan kepadaku bahwasanya engkau shaum di
siang hari dan menegakkan sholat di malam hari?”. Aku menjawab, “Ya benar, wahai Rosulullah”.
Beliau bersabda,

“Janganlah engkau berbuat demikian, shaumlah dan berbukalah, bangun (untuk sholat) dan
tidurlah. Sesungguhnya tubuhmu itu mempunyai hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu,
istrimu mempunyai hak atasmu dan tamumupun memiliki hak atasmu… dan seterusnya hadits”.
[HR al-Bukhoriy: 1975, Muslim: 1159 (182), Ahmad: II/ 194, 200 dan an-Nasa’iy: IV/ 4. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [36]

''Dari Aisyah bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengutus kepada Utsman bin
Mazh’un. Lalu ia mendatang Beliau. Maka Beliau bertanya,  “Wahai Utsman, apakah engkau membenci sunnahku?”. Ia menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rosulullah. Bahkan sunnahmulah
yang aku cari”. Beliau bersabda, “Maka sesungguhnya aku sholat dan aku tidur, aku shaum dan aku berbuka dan akupun menikahi wanita-wanita. Bertakwalah engkau kepada Allah, sesungguhnya pada istrimu itu ada hak, pada tamumu juga ada hak dan pada dirimu juga ada hak. Shaumlah dan berbukalah, sholatlah dan tidurlah!”. [HR Abu Dawud: 1369 dan Ahmad: VI/ 268. Berkata asy-Syaikh
al-Albaniy: Shahih].[37] 

Dalam riwayat yang lain setelah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendengar pengaduan dari
istrinya Aisyah radliyallah anha akan kehidupan Khuwaylah binti Hakim bin Umayyah bin Haritsah
bin al-Awqosh as-Silmiyyah istrinya Utsman bin Mazh’un. Aisyah menceritakan bahwa Khuwaylah
seorang istri layaknya wanita lain. Hanyasaja suaminya itu suka shaum di siang hari dan sholat di
waktu malam. Ia seakan wanita yang tidak memiliki suami maka iapun mulai mengabaikan dirinya
dan tidak lagi mementingkan dirinya. Maka Rosulullah Shallallahu memanggil Utsman bin Mazh’un
dan bersabda, “…….Sebagaimana hadits di atas”. [HR Ahmad: VI/ 286].
Atau di dalam riwayat yang lain, Beliau bersabda kepadanya,

“Wahai Utsman, sesungguhnya kerahiban itu tidak diwajibkan kepada kita. Apakah engkau ada
teladan bagimu padaku?. Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling
menjaga hukum-hukumNya”. [HR Ibnu Hibban, Ahmad: VI/ 226, ad-Darimiy: II/ 132 dan ath-Thabraniy]. [38] 

Di dalam satu riwayat ada tambahan, Berkata (Abu Musa al-Asy’ariy), “Lalu Khuwaylah datang
kepada mereka setelah itu yang seakan-akan ia seorang pengantin baru. Ditanyakan kepadanya,
“Apa yang terjadi?”. Ia menjawab, “Aku juga telah mendapatkannya (yaitu dijimak oleh suaminya)
sebagaimana orang-orang lain telah mendapatkannya”. [HR Ibnu Hibban]. [39] 

Begitu  pula  jika  seorang  lelaki  muslim  memilki  istri  lebih  dari  satu  lantaran  berta’addud
(berpoligami), hendaknya ia berusaha dengan maksimal dan optimal untuk selalu berbuat adil
kepada mereka. Yakni adil di dalam waktu bergilir, memberi pakaian dan makanan, jimak,
perhatian, dan selainnya kecuali rasa cinta yang tumbuh di hati. Karena fitrahnya setiap manusia
niscaya sulit untuk meletakkan rasa cinta dengan kadar yang sama kepada orang-orang yang
dicintainya, hal inipun dialami oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang keadaan hatinya
lebih condong kepada Aisyah radliyallahu anha. [40] 

Namun, ia tidak boleh terlalu condong dalam perkara-perkara di atas kepada salah seorang istrinya,
sebab hal itu akan mendatangkan keburukan kepadanya pada hari kiamat,
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang mempunyaidua orang istri lalu ia condong kepada salah satunya maka ia akan datang pada hari kiamat,
lambungnya dalam keadaan miring. [HR Abu Dawud: 2133, Ibnu Majah: 1969, an-Nasa’iy: VII/63, at-Turmudziy: 1141 dan Ahmad: II/ 295, 347, 471. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [41]

Bersenda gurau dengan istri

Di antara hak istri adalah diperlakukan dengan lemah lembut dan mendapatkan perhatian dari
suaminya. Setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan rumah dari membersihkan rumah
dari menyapu dan mengepel, bebenah rumah dari keadaan rumah yang selalu berantakan karena
adanya  anak  yang  masih  kecil,  mencuci  peralatan  dapur,  mencuci  pakaian,  menjemur  dan
menyetrikanya, memasak dan menyiapkan makanan untuk anggota rumah tangga, mengurus anak-anaknya dan sebagainya. Maka seorang istri butuh istirahat dan keadaan yang dapat menentramkan
hati dan jiwanya.
Jika suami tidak mengerti akan keadaan tersebut maka boleh jadi si istri akan sangat kepayahan,
penderitaan dan tertekan, lalu pada akhirnya jatuh sakit. Jelas hal ini akan merepotkan banyak
orang, apakah berupa rumah berantakan, anak tidak terurus, cucian menumpuk, makanan tidak
tersedia dan selainnya.
Oleh sebab itu hendaknya seorang suami tidak boleh membebani pekerjaan yang tidak disanggupi
oleh istrinya dengan cara membantu pekerjaan yang sulit dikerjakan olehnya. Dan hendaklah pula
ia membuat istrinya merasa nyaman dan tentram dengan cara menyisihkan waktu untuk berduaan,
mengajak rekreasi ke tempat-tempat yang tidak mengandung maksiat, bersenda gurau, bercanda
ria dan sejenisnya.
               '' Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Aku pernah mandi bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari satu bejana”. Beliau mendahuluiku dan akupun mendahuluinya sehingga Beliau berkata, “Sisakan untukku” dan akupun berkata, “sisakan untukku”. Berkata Suwaid, “Beliau mendahuluiku dan akupun mendahuluinya”. Lalu aku berkata, “Sisakan untukku, sisakan untukku”. [HR an-Nasa’iy: I/ 130, 202 dan Muslim: 321 (46). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [42] 

Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya ia pernah bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam dalam suatu perjalanan. Sedangkan waktu itu ia masih gadis. (Aisyah berkata, “Aku belum
berdaging (kurus) dan tidak gemuk). Nabi bersabda kepada para shahabatnya, “Majulah kalian
(mendahuluiku)!”. Lalu merekapun maju (mendahului Beliau). Kemudian Beliau berkata kepadaku,
“Kemarilah,  aku  akan  berlomba  (lari)  denganmu.  Lalu  akupun  berlomba  dengannya  dan
mendahuluinya dengan kedua kakiku. Selang beberapa lama kemudian, aku pergi dalam suatu
perjalanan  lagi  bersama  Beliau.  Beliau  berkata  kepada  para  shahabatnya,  “Majulah  kalian
(mendahuluiku)!”. Kemudian Beliau berkata kepadaku, “Kemarilah aku akan berlomba (lari)
denganmu!”. Sedangkan aku telah melupakan kejadian dulu, dan sekarang aku sudah berdaging dan
gemuk. Aku berkata, “Bagaimana aku akan berlomba denganmu wahai Rosulullah sedangkan aku
dalam keadaan seperti ini?”. Beliau bersabda, “Pokoknya engkau harus melakukannya”. Lalu akupun
berlomba dengannya dan Beliau mendahuluiku lalu tertawa. Beliau berkata,
“Yang ini untuk (membayar) perlombaan yang dahulu”. [HR al-Humaidiy: 261, Abu Dawud: 2578,
an-Nasa’iy, ath-Thabraniy dan Ahmad: VI/ 264. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [43] 

Dari Atho bin Abi Robah berkata, “Aku pernah melihat Jabir bin Abdullah dan Jabir bin Umair al-Anshoriyyain belajar memanah. Salah seorang dari mereka merasa jenuh lalu duduk. Berkatalah
salah seorangnya kepada kawannya tersebut, “Apakah engkau telah merasa malas?, sesungguhnya
aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada menyebut nama Allah adalah kesia-siaan, senda gurau
atau kelalaian kecuali empat perkara, yaitu seseorang menetapkan sasaran (belajar memanah),
melatih kudanya, bersenda gurau dengan istrinya dan belajar berenang”. [HR an-Nasa’iy di dalam
Asy-rah an-Nisa’, ath-Thabraniy di dalam al-Kabir dan Abu Nu’aim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:
Shahih]. [44]

'' Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Abdullah telah meninggal dunia dan meninggalkan 9 (atau 7)
anak perempuan. Lalu akupun menikahi seorang wanita janda. Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bertanya kepadaku, “Wahai Jabir, apakah engkau telah menikah?”. Aku menjawab, “Ya”. Beliau
bertanya, “Apakah dengan gadis atau janda?”. Aku menjawab, “Dengan seorang janda, wahai
Rosulullah”. Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak menikahi gadis yang engkau dapat bermain-main dengannya dan iapun dapat bermain-main denganmu (Atau Beliau bersabda, “Yang kamu
dapat tertawa dengannya dan iapun dapat tertawa denganmu”). Aku berkata, “Sesungguhnya
Abdullah (ayahku) telah meninggal dunia dan meninggalkan 9 atau 7 anak perempuan dan aku
tidak suka jika aku datangkan kepada mereka yang seperti mereka. Aku suka datangkan kepada
mereka seorang wanita yang dapat menjaga dan memperbaiki keadaan mereka”. Lalu Beliau
bersabda, “Barokallah lak” (semoga Allah memberikan berkah kepadamu) atau mengatakan
kebaikan kepadaku”. [HR Muslim: 1466 (56), al-Bukhoriy: 5079. 5080, Abu Dawud: 2048, an-Nasa’iy: VI/61, 65 dan Ahmad: III/ 314. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [45] 

                       Dari Abu Dzarr berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku, “Janganlah  engkau  memandang  remeh  perbuatan  baik  sedikitpun  meskipun  hanya  sekedar menemui saudaramu dengan wajah yang ceria”. [HR Muslim: 2626, at-Turmudziy: 1833 dan Ahmad: V/ 63, 64, 174. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [46] 

Kalau kepada orang lain saja kita harus menampakkan wajah yang ceria, maka bagaimana kepada
istri  tercinta.  Menampakkan  wajah  yang  ceria  penuh  kerinduan  kepadanya,  senyum  selalu
menghias wajah disaat bertatap muka dengannya, menatap wajahnya dengan rasa kasih dan cinta,
menguraikan kalimat berbicara kepadanya dengan kelembutan bahasa, bersenda gurau dan
bertegur canda dengan kata, mata dan segenap anggota tubuh yang tidak terkandung dosa maka
semuanya itu akan melahirkan banyak faidah bagi keduanya.
Disqus Comments