Sabtu, 29 Mac 2014

Mendidik dan Menjaga Para Isteri dari Api Neraka

1. Mendidik dan Menjaga Para Isteri dari Api Neraka.


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS at-Tahrim/ 66: 6].
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Wajib menjaga istri dan anak-anak,
mendidik dan memerintahkan mereka agar patuh kepada Allah dan Rosul-Nya serta melarang
mereka dari meninggalkan hal tersebut”. [4]

Ayat di atas menegaskan kewajiban para suami untuk menjaga keluarganya yaitu istri dan anak-anaknya dari api neraka berupa mendidik, mengajarkan, menashihati, memerintah dan melarang
mereka. Jika mereka mengabaikan kewajiban tersebut ia akan memikul dosa pada hari kiamat dan
akan dimintai pertanggungan jawab atas kelalaian dan ketidakpedulian mereka akan keadaan
keluarga mereka. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mencium bau wewangiannya.

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya, setiap kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan
ditanya tentang yang dipimpinnya. [HR al-Bukhoriy: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, 5200,
7138, di dalam al-Adab al-Mufrad: 206, Muslim: 1829, Abu Dawud: 2928, at-Turmudziy: 1705 dan
Ahmad: II/ 5, 54-55, 111, 121. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [5]

 َ
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
Allah akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpn dari yang dipimpinnya, apakah
ia mampu memelihara amanah tersebut ataukah menyia-nyiakannya?. Sehingga seseorang akan
ditanya tentang keluarga rumahnya”. [HR an-Nasa’iy di dalam Usyrah an-Nisa’ dan Ibnu Hibban.
Berkata asy-SYaikh al-Albaniy: Hasan]. [6]

Dari al-Hasan berkata, Ubaidullah bin Ziyad pernah menjenguk Ma’qal bin Yasar al-Maziniy pada
waktu sakitnya yang ia wafat karenanya. Ma’qal berkata, “Sesungguhnya aku akan bercerita
kepadamu suatu hadits yang pernah aku dengar dari Rosulullah Shallallahu alihi wa sallam.
Seandainya aku mengetahui bahwa aku masih hidup, aku tidak akan menceritakannya kepadamu.
Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorang hamba
yang diberi kepemimpinan oleh Allah lalu ia mati pada hari kematiannya dalam keadaan menipu
yang dipimpinnya melainkan Allah telah mengharamkan surga atasnya”. [HR Muslim: 142 dan al-Bukhoriy: 7150 dengan lafazh, “Tidaklah seorang hamba yang diberi kepemimpinan oleh Allah lalu
ia tidak menjaganya dengan nashihatnya maka ia tidak akan mendapatkan wewangian surga]. [7]

Dari Abdullah bin Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Cukuplah
seseorang itu berdosa jika mengabaikan orang-orang yang menjadi tanggungannya”. [HR Abu
Dawud: 1692, Ahmad: II/ 160, 193, 195 dan al-Humaidiy: 599. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:
Hasan]. [8]
Di samping itu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menghimpun mereka bersama orang
yang durhaka kepada orang tua, pecandu khomer dan para wanita yang menyerupai kaum lelaki
yang telah diharamkan masuk surga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Rosulullah Shallallahu alaihi
wa sallam menyebut mereka dengan dayyuts yaitu orang yang membiarkan keburukan terjadi dan
tersebar pada keluarganya.

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga
golongan manusia yang diharamkan surga oleh Allah, 1. Pecandu khomer, 2. Orang yang durhaka
(kepada kedua orang tuanya) dan 3. Dayyuts yaitu orang yang membiarkan keburukan pada
keluarganya”. [HR Ahmad: II/ 69, 128. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [9]
عم نب ه دبع نع ْمَِْْل
ِ

            Dari Abdullah bin Umar berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Ada
tiga golongan manusia yang tidak akan masuk ke dalam surga dan Allah juga tidak akan memandang
mereka pada hari kiamat, 1. Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. 2. Wanita kelaki-lakian yang menyerupai kaum laki-laki dan 3. Dayyuts. [HR an-Nasa’iy: V/ 80-81, Ahmad: II/ 134,
al-Hakim dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan Shahih]. [10]

Membiarkan para wanita tanpa pendidikan dan pengajaran agama, tanpa nashihat, perintah dan
teguran dari para suami akan menyebabkan mereka menjadi selalu bengkok. Kebengkokan itu
berupa  sikap  meremehkan  keimanan,  ibadah  maupun  akhlak.  Banyak  dijumpai,  kelompok
pengajian para ibu yang gemar ziarah kubur dengan tujuan meminta kepada para penghuninya
berbagai keperluan dari rizki, jodoh, kesehatan dan sebagainya. Atau banyak di antara mereka yang
meyakini keampuhan para dukun, sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi para dukun
tersebut dengan tujuan mereka masing-masing. Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang
menunjukkan bahwa mereka bengkok dalam masalah akidah tauhid dan keimanan.

Dalam masalah ibadah, banyak di antara mereka yang lebih mementingkan acara televisi berupa
ghibahtainment, sinetron dan sejenisnya daripada melaksanakan sholat ashar pada awal waktunya.
Banyak di antara mereka yang lebih mengutamakan riasan wajah daripada mengerjakan wudlu
dengan benar untuk menunaikan sholat. Dengan alasan sibuk mengurus anak dan suami, banyak di
antara mereka yang tidak sempat lagi membaca alqur’an dan bahkan tidak mau lagi menuntut ilmu
sesuai syar’iy dan sebagainya.
Dalam masalah akhlak, banyak di antara kaum hawa yang tidak memperdulikan pergaulan.
Sehingga mereka dengan nyantainya menampakkan aurat mereka kepada kaum lelaki yang bukan
mahram atau suaminya. Banyak pula di antara mereka yang memudah-mudahkan bersalaman dan
bahkan cipika cipiki (cium pipi kanan dan cium pipi kiri) dengan kaum lelaki yang tidak halal bagi
mereka. Juga banyak di antara mereka berkumpul untuk membicarakan sesuatu atau seseorang
yang tidak patut mereka perbincangkan. Dan masih banyak lagi lain-lainnya.

Oleh sebab itu, wajib bagi para suami untuk senantiasa meluruskan kebengkokan mereka dengan
lemah lembut dan rasa kasih sayang. Meluruskan kebengkokan itu dengan cara merutinkan
pemberian nashihat, pengajaran, perintah dan teguran kepada mereka. Namun jika mereka
kesulitan didalam mendidik secara langsung karena keterbatasan pemahaman ilmu agama, ada
kesulitan untuk menyampaikannya kepada para istri atau sedikitnya waktu setiap hari untuk
membimbing  mereka  dan  sebagainya,  maka  mereka  sebaiknya  mengajak  para  istri  untuk
menghadiri kajian-kajian agama yang sesuai syar’iy. Agar mereka dapat mengerti dan memahami
ajaran agama mereka lalu mereka beramal dengan amalan-amalan yang telah diajarkan kepada
mereka dengan bimbingan alqur’an dan hadits-hadits shahih sesuai dengan pemahaman para
ulama salafush shalih. Maka terpeliharalah mereka dalam kelurusan dan terhindar pulalah mereka
dari kebengkokan-kebengkokan yang telah menjadi sifat bagi mereka.

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam, “Hendaklah kalian menashihati kebaikan kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita
itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang
bahagian paling atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya (dengan keras) niscaya engkau akan
mematahkannya  namun  jika  engkau  membiarkannya  maka  ia  akan  selalu  bengkok.  Maka
nashihatilah kaum wanita itu (dengan kebaikan-kebaikan)”. [HR al-Bukhoriy: 3331, 5184, 5186 dan
Muslim: 1468. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [11]

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam, “Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Ia tidak akan mampu berlaku
istikomah di atas suatu jalan karenamu. Jika engkau bersenang-senag dengannya, maka engkau
dapat bersenang-senang dengannya dan ia akan terus bengkok. Namun apabila engkau berusaha
untuk  meluruskannya  (dengan  keras)  maka  engkau  akan  dapat  mematahkannya,  dan
mematahkannya itu adalah (permintaan) cerainya”.  [Diriwayatkan juga oleh at-Turmudziy: 1188.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [12]


Dari Sulaiman bin Amr bin al-Ahwash berkata, Ayahku pernah bercerita kepadaku bahwa ia pernah
menyaksikan haji wada’ bersama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Beliau memuji Allah
dan menyanjung-Nya, memberi peringatan dan nashihat. Disebutkan di dalam hadits tersebut satu
kisah. Lalu Beliau bersabda, “Ingatlah, nashihatilah para wanita itu dengan kebaikan, karena
sesungguhnya mereka itu seperti tawanan di sisi kalian yang kalian tidak memiliki sesuatu apapun
dari mereka selain itu kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka
melakukannya maka jauhilah mereka di tempat-tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan
yang tidak membekas. Jika mereka telah mematuhimu maka janganlah kalian mencari-cari jalan
(untuk menyusahkan mereka). Ingatlah sesungguhnya istri-istri kalian mempunyai hak atas kalian
dan  kalianpun  mempunyai  hak  atas  istri-istri  kalian.  Adapun  hak  kalian  atas  mereka
adalah   janganlah mereka membiarkan orang yang kalian tidak suka menginjakkan kakinya di
tempat-tempat tidur kalian dan janganlah mereka mengidzinkan memasuki rumah kalian orang-orang yang kalian tidak suka. Ingatlah dan hak mereka atas kalian adalah agar kalian berbuat baik
kepada mereka di dalam memberi pakaian dan makan mereka”. [HR at-Turmudziy: 1163, Ibnu
Majah: 1851 dan Ahmad: V/ 72, 73. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [13] 

(asunnah-qatar.com)
Disqus Comments