Sabtu, 29 Mac 2014

Menegur atau Mengingatkannya jika Berbuat Keliru

2. Menegur atau Mengingatkannya jika Berbuat Keliru

Pengajaran kepada kaum wanita itu tidak hanya dengan menyampaikan perintah dan larangan
dalam suatu majlis. Namun juga dapat melalui teguran-teguran dikala mereka melakukan kesalahan
dan kekeliruan. Rasa sayang dan cinta seorang suami itu tidak hanya dengan memberikan berbagai
kebutuhan dan hadiah kepada istri tercintanya. Tapi pemberian dan perlakuan yang paling bernilai
dari seorang suami adalah menyelamatkan istrinya dari neraka dan membimbingnya ke dalam
surga. Maka hal ini, mesti dengan menegur dan mengingatkannya dari berbagai kekeliruan dan
kesalahan yang akan menyeretnya ke neraka. Atau dengan mengajak dan menyuruhnya kepada
berbagai amal shalih yang akan membawanya menuju surga.

Hal ini telah dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika menegur beberapa
orang istrinya dari berbagai macam kesalahan dan kekeliruan.

Dari Aisayah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengkahbarkan bahwasanya ia pernah membeli
sebuah bantal yang bergambar. Ketika Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya, ia berdiri
di depan pinta tidak masuk. Aku tahu ada rasa tidak senang pada wajahnya. Aku berkata, “Wahai
Rosulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rosul-Nya, apakah salahku?”. Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda, “Untuk apakah bantal bergambar ini?”. Aku berkata, “Aku membelinya
untukmu agar engkau dapat duduk di atasnya dan bersandar padanya. Lalu Rosulullah Shalllahu
alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pemilik gambar-gambar ini akan diadzab pada hari
kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang engkau ciptakan!”. Beliau juga
bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh
Malaikat (rahmat)”. [HR al-Bukhoriy: 5181, Muslim: 2107 (96) dan Ahmad: VI/ 246. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [14]


Dari Aisyah radliyallahu anha, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah datang dari suatu
perjalanan sedangkan aku telah menutup ventilasi (lubang angin rumahku) dengan kain tipis yang
terdapat  gambar-gambar.  Ketika  Rosulullah  Shallallahu  alaihi  wa  sallam  melihatnya  iapun
mengoyaknya (Dalam suatu riwayat, berubahlah warna wajahnya) dan bersabda, “Orang yang
paling keras mendapatkan siksaan pada hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan
Allah”. Lalu kami menjadikannya menjadi satu atau dua bantal. [HR al-Bukhoriy: 5954, Muslim:
2107 (92) dan Ahmad: VI/ 36, 85, 86, 199. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [15]


Dari Anas berkata, “Telah sampai (kabar) kepada Shofiyyah bahwa Hafshah berkata, “(Engkau
adalah) putri Yahudi”. Lalu ia menangis dan masuk menemui Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Ia menjawab,
“Hafshah berkata kepadaku bahwa aku adalah seorang putri Yahudi”. Maka Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam bersabda, “Engkau adalah putri seorang nabi (Musa alaihi as-Salam), pamanmu juga
adalah seorang nabi (Harun Alaihi as-Salam) dan engkaupun dibawah lindungan nabi (Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam, suaminya), maka dengan sebab apa ia membanggakan (dirinya) atasmu?”. Lalu Beliau berkata, “Bertakwalah engkau kepada Allah, wahai Hafshah!”. [HR at-Turmudziy: 3894 dan Ahmad: III/ 135-136. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [16]
  ِ
Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Aku pernah menceritakan seseorang kepada Rosulullah
Shallallahu alaihi wa sallam. Maka Beliau bersabda,  “Aku tidak suka menceritakan tentang
seseorang sedangkan aku sendiri demikian dan demikian”. Aisyah berkata, “Aku berkata, “Wahai
Rosulullah, sesungguhnya Shofiyah itu seorang wanita segini”. Ia mengatakannya dengan tangannya,
seolah-olah ia bermaksud (mengatakan), ‘pendek’. Lalu Beliau bersabda, “Sungguh-sungguh engkau
telah mencampur dengan suatu ucapan seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan
tercampur”. [HR at-Turmudziy: 2502, Abu Dawud: 4875 dan Ahmad: VI/ 189. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [17]
 ِ
Dari Aisyah berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar (dari rumahnya)
kemudian masuk. Sedangkan aku telah menggantungkan tirai yang di dalamnya ada gambar kuda
bersayap (kuda sembrani). Berkata Aisyah, “Ketika Beliau melihatnya, Beliau bersabda, “Cabutlah
tirai itu!”. [HR an-Nasa’iy: VIII/ 213, Muslim: 2107 (90) dan Ahmad: VI/ 208, 281. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [18]

Beberapa dalil hadits di atas menjelaskan bahwa seorang suami itu berhak untuk menegur dan
mengingatkan istrinya  dari berbagai kesalahan dan dosa.  Maka  sebagai muslim,  kita  wajib
menunaikan kewajiban kita dengan cara menegur dan mengingatkan pasangan hidup kita jika
melakukan kesalahan dan dosa. Dan sebagai istri hendaknya mereka menerima teguran, tidak
marah apalagi mengajak bertengkar ketika suami mereka sedang melakukan kewajibannya.
Jika seorang suami melihat istrinya sedang asyik menggunjing (ghibah) orang lain bersama teman-temannya, menunda-nunda waktu sholat, memperlihatkan auratnya kepada lelaki lain yang tidak
halal, boros di dalam memanfaatkan harta, berpuasa sunnah atau menghibahkan hartanya atau
bepergian tanpa seidzin suaminya dan sebagainya maka suami dari wanita tersebut berhak bahkan
wajib menegur atau mengingatkannya dari berbagai kekeliruan yang ia kerjakan.
Kalau saja para wanita itu tahu tentu mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada para
suami mereka karena mereka sedang diselamatkan dari kobaran api neraka. Apalagi Rosulullah
Shallalahu alaihi wa sallam telah menerangkan di dalam banyak haditsnya bahwa kebanyakan

penghuni neraka adalah kaum wanita. Hal ini disebabkan karena kurangnya akal dan agama
mereka, banyaknya keluhan, kutukan dan sumpah serapah dari mulut-mulut mereka lantaran
kekesalan yang ada pada diri mereka, kufurnya mereka terhadap posisi suami dan perbuatan baik
yang dilakukan oleh para suami mereka kepada mereka dan sebagainya.

Dari Usamah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah berdiri di dekat pintu
surga dan kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Adapun orang-orang
yang memiliki harta akan tertahan. Sedangkan para penghuni neraka telah diperintahkan (masuk)
ke dalam neraka.   Aku berdiri di depan pintu neraka, dan kebanyakan orang yang memasukinya
adalah kaum wanita”. [HR al-Bukhoriy: 5196, 6547, Muslim: 2736 dan Ahmad: V/ 205, 209. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [19]
 ِ
Dari Jabir bin Abdullah berkata, “Aku pernah bersama-sama Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam
menyaksikan sholat ied. Beliau memulai sholat sebelum khutbah tanpa adzan da ikomah. Kemudian
bersabda  sambil  bersandar  kepada  Bilal.  Beliau  menyuruh  untuk  bertakwa  kepada  Allah,
mendorong untuk mentaati-Nya, menashihati manusia dan memberi peringatan kepada mereka.
Kemudian Beliau berjalan sehingga melewati kaum wanita, menashihati mereka dan memberi
peringatan  kepada  mereka.  Lalu  Beliau  bersabda,  “(Wahai  para  wanita)  hendaklah  kalian
bersedekah, karena kebanyakan kalian adalah bahan bakarnya neraka Jahannam”. Lalu berdirilah
seorang wanita dari wanita yang tebaik lagi hitam kedua pipinya, ia bertanya, “Mengapakah
demikian,  wahai  Rosulullah?”.  Beliau  bersabda,  “Karena  kalian  suka  banyak  mengeluh  dan
mengkufuri suami”. Lalu mereka mulai menyedekahkan sebahagian dari perhiasan mereka yang
diletakkan pada kain baju Bilal berupa anting-anting dan cincin mereka”. [HR Muslim: 885 (4)].

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar
ke Musholla (tanah lapang) untuk menunaikan sholat iIedul adlha atau fithri. Kemudian Beliau
berpaling,  lalu menashihati manusia  dan memerintahkan mereka  untuk bersedekah.  Beliau
bersabda, “Wahai manusia, bersedekahlah kalian!”. Ketika melewati kaum wanita, Beliau bersabda,
“Wahai para wanita, bersedekahlah kalian, karena aku telah melihat kalian yang terbanyak
penghuni neraka”. Mereka bertanya, “Mengapakah demikian, wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda,
“Karena kalian suka banyak mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal
dan agama seseorang di antara kalian dapat menghilangkan akal seorang lelaki yang bijak wahai
kaum wanita”. Kemuadian Beliau berpaling (pulang menuju rumahnya). Ketika Beliau telah di
rumahnya, datanglah Zainab istrinya Ibnu Mas’ud dan ia meminta idzin untuk bertemu dengannya.
Dikatakan, “Wahai Rosulullah, aku Zainab (ingin bertemu)”. Beliau bertanya, “Zainab yang mana?”.
Dikatakan, “Istrinya Ibnu Mas’ud”. Beliau bersabda, “Ya, idzinkanlah dia!”. Maka iapun diidzinkan
(untuk bertemu Beliau). Ia bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau pada hari ini telah
memerintahkan untuk bersedekah dan aku memiliki perhiasan yang aku ingin sedekahkan. Namun
Ibnu Mas’ud beranggapan bahwa dia dan anaknya adalah orang yang lebih berhak aku sedekahkan”.
Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anakmu
itu adalah orang yang lebih berhak engkau sedekahkan”. [HR al-Bukhoriy:1462 dan Ahmad: II/ 87.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [20]


Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para wanita,
bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (permohonan ampun)!, karena aku melihat kalian
yang terbanyak penghuni neraka. Lalu bertanyalah seorang wanita dari mereka yang fasih dalam
berbicara, “Mengapakah kami yang terbanyak penghuni neraka, wahai Rosululla?”. Beliau bersabda,
“Karena kalian suka banyak mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal
dan agama seseorang di antara kalian dapat menghilangkan akal seseorang yang bijak”. Ia bertanya
lagi, “Wahai Rosulullah, apakah yang dimaksud dengan berkurangnya akal dan agama itu?”.  Beliau
menjawab, “Adapun berkurangnya akal adalah persaksian dua wanita itu sebanding dengan
persaksian seorang lelaki, maka itulah berkurangnya akal. Dan ia tinggal beberapa hari tidak
mengerjakan sholat dan berbuka ketika Ramadlan maka inilah berkurangnya agama”.  [HR Muslim:
79, al-Bukhoriy: 304, 1951, 2658, Ibnu Majah: 4003 dan Ahmad: II/ 66-67. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [21]

Dari Abdullah bin Abbas bahwasanya ia berkata, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Lalu aku lihat neraka, aku tidak pernah melihat pemandangan (yang lebih buruk)
sedikitpun seperti hari ini dan aku lihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita”. Mereka
bertanya,  “Mengapakah  demikian  wahai  Rosulullah?”.  Beliau  menjawab,  “Karena  kekufuran
mereka”. Mereka bertanya lagi, “Apakah karena kufur kepada Allah?”.   Beliau menjawab, “Karena
kufur kepada suami dan kufur pula kepada perbuatan baik. Jikalau engkau berbuat baik kepada
seseorang di antara mereka sepanjang masa, lalu ia melihat sesuatu (keburukan) darimu ia berkata,
“Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun”. [HR al-Bukhoriy: 29, 431, 748, 1052, 3202,
5197 dan Muslim: 907].

Dari Imran dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah menengok ke dalam surga
dan kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Aku juga pernah menengok ke dalam
neraka  dan kebanyakan penghuninya  adalah  kaum wanita”.  [HR al-Bukhoriy: 5198  dan at-Turmudziy: 2602. Berkata asy-Syaikh al-Albniy: Shahih]. [22]
 ِ
Dari Abu at-Tayyah berkata, al-Mithraf bin Abdullah memiliki dua orang istri. Ia datang dari salah
seorang istrinya, maka yang lainnya bertanya, “Apakah engkau datang dari si Fulanah (yaitu
madunya)?”. Al-Mithraf berkata, “Aku baru datang dari Imran bin Hushain, lalu ia menceritakan
bahwa Rosulullah Shallallahu alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya minoritas penghuni surga
adalah kaum wanita”. [HR Muslim: 2738 dan Ahmad: IV/ 427, 443. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:
Shahih]. [23]

Dari Imarah bin Khuzaimah berkata, “Ketika kami bersama Amr bin al-Ash di dalam menunaikan
ibadah haji atau umrah, ia bercerita, “Ketika kami sedang bersama-sama Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam di bukit ini tiba-tiba Beliau bersabda, “Perhatikanlah, apakah kalian melihat
sesuatu?”. Kami menjawab, “Kami melihat kawanan burung gagak yang pada mereka itu ada seekor
burung gagak yang paruh dan kedua kakinya berwarna merah”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga dari kalangan wanita kecuali seseorang diantara mereka
itu seperti burung gagak itu di antara kawanan mereka”. [HR Ahmad: IV/ 197, 205 dan Abu Ya’la.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy; Shahih]. [24]
Alangkah sedih dan menyedihkan, jika orang-orang yang kita cintai kelak akan masuk ke dalam
neraka, jika kita sekarang ini mengabaikan kewajiban kita untuk meluruskan agama mereka. Dan
kitapun tidak akan selamat nanti di hari kiamat jika kita membiarkan istri dan anak-anak kita
terjungkal masuk ke dalamnya. Karena kita nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas orang
yang kita pimpin apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallampun telah menyebut kita sebagai
dayyuts. Ma’adzalloh.
Jika kita biarkan kebengkokan mereka, boleh jadi di antara mereka ada yang menjadi musuh bagi
kita di dalam kehidupan di dunia ini. Yaitu mereka akan menghalang-halangi kita dari mengibadahi
Allah Ta’ala dengan benar dan akan senantiasa mengajak kita untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala
dan Rosul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam.


Dari Ibnu Abbas, ada seorang lelaki pernah bertanya kepada tentang ayat ini ((Wahai orang-orang
yang beriman sesungguhnya sebahagian dari istri-istri dan anak-anak kalian itu ada yang menjadi
musuh bagi kalian maka berhati-hatilah terhadap mereka. QS. At-Taghobun/ 64: 14)). Ia menjawab,
“Mereka adalah para lelaki yang masuk Islam dari penduduk Mekkah dan mereka ingin mendatangi
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Namun istri-istri dan anak-anak mereka enggan memenuhi ajakan
mereka untuk mendatangi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu mereka melihat banyak
manusia telah memahami agama, dan mereka berkeinginan untuk menghukum mereka (yaitu anak
dan  istri  mereka  karenanya).  Lalu  Allah  menurunkan  ((Wahai  orang-orang  yang  beriman
sesungguhnya sebahagian dari istri-istri dan anak-anak kalian itu ada yang menjadi musuh bagi
kalian maka berhati-hatilah terhadap mereka)). [HR at-Turmudziy: 3317. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [25]

Di dalam sebuah hadits, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa di antara
penyebab tertolaknya doa seorang muslim adalah lantaran ia mempunyai istri yang jelek dan busuk
akhlaknya. Jika akhlak jelek saja dapat menghalangi doa suaminya bagaimana dengan keburukan
akidah dan ibadahnya?. Tentu itu lebih berbahaya. Maka doa seorang lelaki dari meminta surga,
dijauhkan dari neraka, dipelihara dari adzab kubur, dimudahkan mencari rizki yang baik lagi halal
dan sebagainya akan menjadi sia-sia jika ia masih hidup berdampingan dengan istrinya yang busuk
akhlak kelakuannya.

Dari Abu Musa al-Asy’ariy dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan orang
yang berdoa namun tidak dikabulkan doa mereka. 1. Seorang pria yang mempunyai seorang istri
yang buruk akhlaknya lalu ia tidak mau menceraikannya. 2. Seseorang yang mempunyai piutang
pada orang lain namun ia tidak mau mempersaksikannya. 3. Dan seseorang yang memberikan
hartanya kepada orang yang dungu. Allah Azza wa Jalla berfirman ((Dan janganlah kamu serahkan
kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (atau orang-orang bodoh) harta mereka. QS an-Nisa’/ 4: 5)). [HR Ibnu Syadzan dan al-Hakim: 3235. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [26]
Bahkan beristri yang tidak shalih lagi jahat perangainya adalah termasuk dari kesialan seorang
muslim, disamping rumah yang sudah mulai rusak lagi butuh perbaikan dan kendaraan yang sering
ngadat dan merongrong pendapatan.
Hidup seorang muslim dikatakan sial jika ia mempunyai istri yang bisanya hanya bersolek dari
mengecat kuku, memoles pipi dengan bedak dan selainnya tanpa memperdulikan pelayanan kepada
suaminya. Dikatakan apes jika memiliki istri yang malas mengurus rumah tangga dan kesukaannya
hanya makan cemilan dan tidur. Atau hanya sibuk dengan bertetangga dan menemui beberapa
temannya untuk sekedar pamer apa yang dimilikinya atau menggunjing orang lain dengan mereka.
Sehingga tidak sedikit dijumpai suami yang mengambil makanan dan minumannya sendiri lalu
menyantapnya tanpa ditemani oleh istrinya. Tidurpun hanya berteman dengan bantal dan guling
karena istrinya telah disibukkan dengan mimpi indahnya tanpa peduli dengan suaminya. Naaslah
nasib seorang suami yang dibiarkan terkapar di kamarnya yang lusuh dan lembab ketika menderita
sakit lantaran tidak mendapat perawatan yang pantas dari istrinya. Dan lain sebagainya.

Dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Kesialan itu ada pada wanita, rumah dan kendaraan”. [HR al-Bukhoriy: 2858, 5093, Muslim: 2225
dan Ahmad: II/ 8, 115, 126, 136. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [27]
َ
Dari Ibnu Umar berkata, Mereka pernah berbicara tentang kesialan disisi Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika kesialan ada pada sesuatu maka itu
ada pada rumah, wanita dan kendaraan”. [HR al-Bukhoriy: 2859, 5095, di dalam al-Adab al-Mufrad:
917, Muslim: 2226 dan Ahmad: II/ 85. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [28]

(assunnah-qatar.com)
Disqus Comments