Sabtu, 29 Mac 2014

Menjaga dirinya dan harta suami ketika suami sedang tidak ada disisinya.

3. Menjaga dirinya dan harta suami ketika suami sedang tidak ada disisinya.


Kewajiban lainnya adalah senantiasa menjaga kehormatannya dan harta suaminya ketika suaminya
tidak berada di sampingnya. Yakni ia tidak akan menerima sentuhan lelaki manapun yang
menginginkan dirinya selain suaminya. Begitu pula ia akan memelihara harta suaminya yaitu tidak
akan ia belanjakan harta suaminya itu sekehendak hatinya atau ia tidak memberikan hartanya
tersebut tanpa sepengetahuan dan idzin dari suaminya, meskipun kepada orang tuanya, saudara-saudara ataupun teman-temannya.


Dari Abdullah bin Salam, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik wanita
adalah yang menyenangkanmu apabila engkau pandang, mematuhimu jika engkau perintah dan
menjaga kepergianmu pada dirinya dan hartamu”. [HR ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [77]

Dari Fadlalah bin Ubaid dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan orang
yang tidak akan ditanya tentang mereka, 

1). Orang yang memisahkan diri dari jamaah dan
mendurhakai imamnya lalu meninggal dalam keadaan berbuat maksiat. Ia tidak ditanya lagi
tentangnya. 

2). Budak wanita atau lelaki yang kabur dari majikannya (lalu ia meninggal). Dan 

3).wanita yang suaminya tidak berada di sisinya dan suaminya itu telah mencukupi kebutuhan
dunianya lalu ia bersolek molek dan bercampur gaul (dengan orang banyak) sepeninggalnya. [HR
al-Bukhoriy: 590 di dalam al-Adab al-Mufrad, Ahmad: VI/ 19, al-Hakim, Ibnu Hibban dan Ibnu Abi
Ashim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [78]

Dari Uqbah bin Amir bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Waspadalah
kalian dari masuk (ke dalam rumah untuk menemui) wanita”. Seorang lelaki Anshor bertanya,
“Wahai Rosulullah, bagaimana dengan ipar?”. Beliau menjawab, “Ipar adalah maut (kematian)”. [HR
Muslim: 2172, al-Bukhoriy: 5232, at-Turmudziy: 1171, Ahmad: IV/ 149, 153 dan ad-Darimiy: II/
278. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [79]

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radliyallahu anhuma, bahwasanya sekelompok orang dari Bani
Hasyim penah masuk ke rumah Asma binti Umais. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq radliyallahu anhu
masuk juga menemuinya sedang Asma saat itu adalah istrinya. Abu Bakar melihat mereka maka
timbullah perasaan tidak suka akan hal tersebut. Iapun menceritakah hal itu kepada Rosulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata, “Aku tidaklah memandang hal ini kecuali kebaikan saja”.
Lalu bersabda Rosulullah Shallallahu shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah telah
membebaskannya dari hal tersebut”. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di
atas mimbar dan bersabda, “Sesudah hari ini, janganlah seorang lelaki masuk menemui wanita
mughoyyabah (yang ditinggal pergi suaminya) kecuali jika ia bersama satu atau dua orang”. [HR
Muslim: 2173 dan Ahmad: II/ 171, 186, 213. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [80]
Disqus Comments