Sabtu, 29 Maret 2014

Menyerahkan dirinya kepada suami kapanpun ia memintanya untuk bersenang-senang.

5. Menyerahkan dirinya kepada suami kapanpun ia memintanya untuk bersenang-senang.| Menggapai Keluarga Sakinah


Kewajiban selanjutnya yang banyak diabaikan oleh kebanyakan wanita adalah memenuhi ajakan
dan  keinginan  pasangannya  untuk  berjimak  yakni  melakukan  hubungan  intim.  Dengan
mengemukakan berbagai dalih, ia menolak ajakan suaminya tersebut. Apakah dengan alasan, sibuk
mengurus anak, membuat makanan dan penganan, sedang letih, sedang tidak mut dan lain
sebagainya.
Ia banyak berdalih hanyalah untuk menghindar ajakan suaminya untuk berjimak, yang boleh jadi
lantaran ia takut hamil dan melahirkan, malas untuk mandi janabat, telah berkurang rasa cintanya
kepada suaminya karena uang belanja selalu kurang dan lain sebagainya.
Kalaulah setiap wanita mau atau telah membaca, memahami dan mengimani sabda-sabda Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam berikut ini, niscaya akan berkuranglah penolakannya terhadap ajakan
suaminya meskipun ia sedang berada di atas kendaraan atau sedang mengerjakan pekerjaannya di
dapur dan selainnya. 



Dari Abu HUrairah radliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
seorang lelaki mengajak istrinya (berhubungan intim) di pemabaringannya lalu si istri enggan
(memenuhinya), (dalam riwayat Abu Dawud, “lalu ia tidur dalam keadaan marah”) maka para
Malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari”. [HR al-Bukhoriy: 5193, Muslim: 1436, Abu Dawud:
2141 dan Ahmad: II/ 439, 480. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [92]

Dari Zaid bin Arqom bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila
seorang lelaki mengajak istrinya maka hendaklah ia memenuhi (ajakannya tersebut) kendatipun ia
berada di atas pelan (kuda)”. [HR al-Bazzar. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [93]

Dari Thalq bin Ali berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila seorang
lelaki mengajak istri untuk keperluannya maka hendaklah ia mendatanginya meskipun ia berada di
dapur”. [HR at-Turmudziy: 1160 dan Ahmad: IV/ 22-23. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [94]
Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Hak suami atas istrinya itu sangat besar
maka sepantasnya istri itu selalu mempersiapkan diri untuknya. Terdapat motivasi untuk wanita
untuk berbuat yang menimbulkan keridloan suaminya dan membahagiakannya dengan semua yang
ia sukai. Karena suami itu memiliki keutamaan atas istrinya berupa penjagaan dan pemeliharaan”.
[95]

Dari Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Demi Dzat yang
jiwaku ada pada tangan-Nya, tidaklah seorang muslim mengajak istrinya ke pembaringan lalu ia
menolak ajakannya melainkan (Allah) yang berada di langit akan murka kepadanya sehingga
suaminya itu ridlo kembali kepadanya”. [HR Muslim: 1436 (121). Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:
Shahih]. [96] 

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Wajibnya istri itu mentaati suaminya
apabila diajak ke pembaringannya (untuk berjimak). Dan tidak ada alasan baginya (untuk menolak)
karena perkara yang paling kuat yang dapat mengacaukan para lelaki adalah ajakan hasrat untuk
jimak (hubungan badan). Oleh sebab itu Pembuat syariat Yang Maha bijaksana (yakni Allah ta’ala)
telah memberi dorongan kepada para wanita untuk membantu suaminya dalam hal tersebut supaya
ia dapat menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya”.
Katanya lagi, “Kesabaran suami dalam meninggalkan jimak (nafsu seksual) itu lebih lemah daripada
kesabaran wanita. Oleh sebab itu, penolakan wanita atas ajakan suami (untuk berhubungan intim)
di tempat tidur itu merupakan dosa besar yang akan mengakibatkan kemurkaan Allah”. [97]
Menurut  hadits  yang  diriwayatkan  dari  Abu  Hurairah  radliyallahu  anhu  di  atas  beserta
penjelasannya,  bahwa  jika  seorang  istri  menolak  ajakan  suaminya  untuk  berjimak  akan
menyebabkan datangnya murka Allah ta’ala kepadanya sehingga suaminya tersebut ridlo kembali
kepadanya. 

Di dalam jimak itu banyak sekali faidahnya, misalnya untuk menjaga dan melanjutkan keturunan,
memperbaiki dan menambah keharmonisan hubungan suami istri, mendapatkan kenikmatan dan
kelezatan darinya dan memelihara kesehatan keduanya karena biasanya jika salah satu atau
keduanya sudah lama tidak mengeluarkan spermanya dengan melalui berjimak maka hal itu akan

menimbulkan rasa pusing yang hebat, badan terasa tidak nyaman dan mudah gelisah dan marah.
Jimak juga dapat membuat fresh atau rasa segar baik bagi jasmani ataupun rohani keduanya, dapat
melahirkan rasa rindu untuk selalu berduaan dengan pasangannya, mendapatkan pahala karena
jimak itu disebut oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai sedekah dan lain sebagainya.
Berkata al-Allamah Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah, “Adapun masalah jimak (hubungan
seksual),  petunjuk  beliau  di  dalam  masalah  ini  sangat  sempurna.  Yakni  dapat  memelihara
kesehatan, kenikmatan yang diperoleh dan kebahagiaan hati telah utuh dan berbagai tujuan dari
hubungan ini akan didapat. Jimak (Hubungan seksual) ini pada dasarnya ditetapkan karena tiga
perkara, yang ketiga hal tersebut merupakan tujuan hakiki dari hubungan jimak,
1). Menjaga dan melanjutkan keturunan. Yang dengan hal ini, sarana yang Allah telah tetapkan
muncul di alam semesta dengan sempurna.
2). Mengeluarkan air mani (sperma), yang jika ditahan (tidak dikeluarkan) dapat membahayakan
fisik.
3). Menyalurkan hasrat, merasakan kelezatan dan mengecap kenikmatan.
Manfaat yang ketiga ini, adalah yang satu-satunya kekal di dalam surga. Sebab di surga tidak ada
kelahiran dan tidak ada sperma yang ditahan sehingga harus dikeluarkan. [98]
Katanya lagi, “Para dokter/ thabib terkemuka berpendapat bahwa jimak (hubungan seksual) itu
adalah salah satu faktor untuk menjaga kesehatan”. [99]
Dari  Abu  Dzarr,  Bahwasanya  orang-orang  berkata,  “Wahai  Rosulullah,  orang-orang  yang
mempunyai harta telah pergi membawa pahala, mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka
shoum sebagaimana kami shoum dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka”. Beliau
bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang kalian dapat bersedekah
dengannya. Sesungguhnya tiap-tiap tasbih itu sedekah, tiap-tiap takbir itu sedekah, tiap-tiap tahmid
itu sedekah, tiap-tiap tahlil itu sedekah, perintah berbuat ma’ruf itu sedekah, melarang dari
perbuatan munkar itu sedekah

  dan seseorang di antara kalian menggauli istrinya adalah sedekah”. Mereka bertanya, “Wahai
Rosulullah, apakah seseorang di antara kami menunaikan syahwatnya, lalu ia mendapatkan
pahala?”. Beliau menjawab, “Bagaimana pandangan kalian jikalau ia meletakkan (maksudnya;
menunaikan)nya pada tempat yang haram, apakah ia akan mendapatkan dosa?. Maka demikian pula
jika diletakkan pada tempat yang halal tentulah ia akan mendapatkan pahala”. [HR Muslim: 1006, al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad halaman 52 dan Ahmad: V/ 154, 167, 168, 178. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [100]
Disqus Comments

Postingan Populer