Sabtu, 29 Maret 2014

Tidak mencemburui suaminya dengan kecemburuan yang dimurkai oleh Allah Ta’ala

8. Tidak mencemburui suaminya dengan kecemburuan yang dimurkai oleh Allah Ta’ala.

Cemburu adalah suatu sifat yang baik dan wajar yang dimiliki oleh setiap manusia. Sehingga dengan
cemburu, seorang wanita akan berusaha tampil di hadapan suaminya itu sebaik-baiknya untuk
menarik hatinya. Dengan sifat cemburu, ia akan melayani suaminya dengan pelayanan lebih dari
biasanya agar suaminya merasa puas dengannya dan tidak berpaling kepada selainnya. Dengan sifat
itu pula seorang wanita, akan berusaha menuruti kehendak suaminya yang sesuai syar’iy supaya
suaminya itu merasa aman dan nyaman di sisinya. Sebab jika suaminya tidak tertarik lagi padanya,
tidak merasa puas dengan pelayanannya dan tidak merasa aman dan nyaman di sisinya maka ia
khawatir  suaminya  itu  akan  mencari  semuanya  itu  kepada  yang  lainnya.  Maka  ini  adalah
kecemburuan yang positif lagi disukai oleh Allah Azaa wa Jalla. 


Tetapi jika rasa cemburunya itu tidak berdasar dan membabi buta, sehingga ia selalu curiga dengan
segala  tindak-tanduk suaminya,  berburuk sangka  dengan  semua  yang dikerjakan  suaminya,
terkadang mengintai sebahagian kegiatan yang dilakukan oleh suaminya di berbagai tempat,
menampakkan raut wajah yang bimbang dengan kebaikan suaminya dan selainnya.
Apalagi jika suaminya memiliki lebih dari seorang istri, maka kecemburuannya tersebut dapat
membawanya kepada banyak keburukan. Misalnya, iri dengan madunya yang lebih cantik dan mapan darinya, enggan melayani kebutuhan suaminya karena ia merasa jijik dengan suaminya yang
ia duga baru saja melakukan jimak dengan madunya, enggan menyiapkan makanan dan minuman
suaminya karena ia menganggap suaminya itu telah terpenuhi kebutuhannya di rumah madunya,
curiga terhadap suaminya yang ia sangka suka memberikan hadiah kepada madunya yang tidak
diberikan kepadanya dan lain sebagainya. Maka ini adalah kecemburuan yang negatif lagi dibenci
oleh Allah Azza wa Jalla.

Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia bercerita bahwasanya Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam suatu malam pernah keluar dari sisinya. Ia berkata, “Akupun cemburu karenanya”.
Lalu Beliaupun datang dan melihat apa yang aku perbuat. Beliau bersabda, “Apa yang terjadi
padamu wahai Aisyah, apakah engkau cemburu?”. Aku menjawab, “Mengapa tidak cemburu atas
permisalanku padamu?”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apakah setanmu
telah datang kepadamu?”. Aku berkata, “Wahai Rosulullah, adakah setan bersamaku?”. Beliau
menjawab, “Ya”. Aku bertanya, “Apakah (setan itu) bersama setiap manusia?”. Beliau menjawab, “Ya”.
Aku bertanya lagi, “Apakah juga bersamamu?”. Beliau menjawab, “Ya, namun Rabbku telah
membantuku sehingga aku selamat”. [HR Muslim: 2815 dan Ahmad: VI/ 115. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].  [112]

Dari Jabir bin Atik bahwasanya Nabiyullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Di antara
rasa cemburu itu ada yang disukai oleh Allah dan yang dibenci oleh Allah. Yang disukai oleh Allah
adalah cemburu di dalam keraguan dan yang dibenci Allah adalah cemburu  dalam selain keraguan”.
[HR Abu Dawud: 2659, an-Nasa’iy: V/ 78-79, Ahmad: V/ 445, 446 dan ad-Darimiy: II/ 149. Berkata
asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan]. [113]
Disqus Comments

Postingan Populer