Sabtu, 29 Maret 2014

Tidak menyakiti perasaan suami | Menggapai Keluarga Sakinah

7. Tidak menyakiti perasaan suami.


Jika Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang setiap
muslim dan muslimah untuk menyakiti perasaan saudaramnya sesama muslim maka bagaimana
dengan seorang istri yang menyakiti perasaan suaminya sendiri. Tentu hal ini lebih terlarang lagi.
Namun hal ini, tidak disadari oleh kebanyakan para wanita atau bahkan dengan sengaja melakukan
hal tersebut lantaran kebencian kepada suaminya tersebut. 


Banyak perilaku istri yang dapat menyakiti perasaan suaminya. Misalnya dengan aneka perkataan
yang merendahkan suaminya, apakah karena jenjang pendidikannya yang rendah, wajah yang pas-pasan, gaji di bawah standar orang lain, anak orang yang tidak berpunya dan lain sebagainya. Ia
gemar membandingkan keadaan rendah dan kurang suaminya itu dengan orang lain yang lebih baik
dan mapan di depan suaminya. 

Atau sang istri suka merendahkan dan menggunjing keluarga suaminya dari ayah dan ibunya, kakak
dan adiknya tanpa peduli akibatnya, teman-teman kantornya dan lain sebagainya.
Atau menyakiti perasaan suaminya adalah dengan bentuk mengabaikan kebutuhannya, tidak
menegur dan menyapanya, membiarkannya makan sendirian, dan lain sebagainya. 

Perbuatan dan perilaku tersebut jelas merupakan dosa besar yang diharapkan pelakunya taubat
darinya. Apalagi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengkhabarkan bahwa jika ada
seorang wanita yang menyakiti perasaan suaminya, maka istri dari suaminya dari golongan bidadari
berkata dengan nada marah, “Janganlah engkau menyakitinya, semoga Allah membinasakanmu”.
Setiap wanita mukminah yang shalihah niscaya ia akan beriman kepada apa yang dikhabarkan
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits ini, lalu ia akan berusaha menerapkannya
dalam keidupan sehari-harinya dengan menjaga setiap perbuatan dan perilakunya agar tidak lagi
menyinggung dan menyakiti perasaan suaminya.

Dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang wanita
menyakiti suaminya di dunia melainkan berkatalah istrinya dari golongan bidadari, “Janganlah
engkau menyakitinya, niscaya Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia adalah seorang tamu yang
masuk ke sisimu, yang sebentar lagi ia akan berpisah meninggalkanmu untuk menuju kepada kami”.
[HR at-Turmudziy: 1174, Ibnu Majah: 2014 dan Ahmad: V/ 242. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy:
Shahih]. [105] 

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Perintah waspada kepada wanita agar
tidak menyakiti suaminya baik secara phisik ataupun psikis”.[106]

Dari Urwah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai Ummu Salamah
janganlah engkau menyakitiku pada Aisyah. Karena sesungguhnya, demi Allah tidaklah turun suatu
wahyu kepadaku yang aku sedang berada di selimut seorang wanita di antara kalian selainnya”. [HR
al-Bukhoriy: 2581, 3775, an-Nasa’iy: VII/ 68, 68-69 dan at-Turmudziy: 3879. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [107]

Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam pernah menegur istrinya yaitu Ummu Salamah radliyallahu
anhu karena telah menyakiti dirinya pada Aisyah radliyallahu anha. Hal ini dilakukan Ummu
Salamah karena ia menduga Nabi Shallallahu alaihi wa salam tidak berlaku adil di antara istri-istrinya yaitu Beliau lebih mencintai Aisyah dan mengutamakannya lebih dari yang lainnya. Lalu ia
menuntut Beliau untuk berlaku adil kepadanya dan yang lainnya. Padahal Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam adalah manusia yang paling adil di permukaan bumi, tidak ada manusia lain yang
lebih adil dari Beliau, sepanjang masa dan di segenap tempat. 

Hadits di atas juga merupakan gambaran sifat wanita yang pencemburu dan suka melakukan
sesuatu terhadap suaminya meskipun ia tidak menyadari telah menyakiti perasaan suaminya
sendiri. Oleh karena itulah kebanyakan wanita itu tempatnya di neraka yang ditempatkan Allah
Subhanahu wa ta’ala karena sifat-sifat buruknya. Misalnya karena suka banyak mengeluh terhadap
kesulitan dan penderitaan yang menderanya. Wanita suka banyak mengutuk dan mencela terhadap
hal-hal yang tidak ia sukai dari suaminya seperti karena gaji suaminya sedikit, jabatannya rendah,
penampilannya kurang menarik, pendidikannya rendah dan selainnya. 

Wanita  juga  suka  mengkufuri  suaminya  yaitu  merendahkan  suaminya  dan  menolak
kepemimpinannya di rumah tangganya. Ia tidak mau diperintah dan gemar melawan perintah
suaminya hanya karena ia merasa masih cantik menawan, pendidikan dan pangkat kedudukannya
lebih tinggi dari suaminya, ia merasa telah mampu mencari uang sendiri apalagi jika sebahagian
besar rumah, kendaraan dan perabotan-perabotannya adalah hasil keringatnya sendiri bukan
suaminya.

Banyak wanita juga yang suka mengingkari kebaikan yang suaminya telah berikan kepadanya.
Ketika suaminya tidak bisa memberikan sesuatu yang diinginkan olehnya atau ia mendapatkan
suatu keburukan pada suaminya, ia berkata kepada suaminya dengan ketus, “Aku tidak pernah
melihat dan mendapatkan kebaikan sedikitpun darimu”. Padahal selama ini suaminya telah banyak
memberikan  kebaikan  kepadanya  dan  selalu  berusaha  untuk  mencukupi  keperluannya
semampunya. 

Maka jelas, sikap-sikap buruk seperti itu akan menyusahkan dan menyakiti perasaan suaminya baik
disadari ataupun tidak. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan akan sifat buruk
para wanita kepada suaminya yang akan menyeretnya masuk ke dalam neraka. Perhatikan dalil-dalil berikut,
Dari Jabir bin Abdullah berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahua alaihi wa sallam, “Karena
kalian suka banyak mengeluh dan mengkufuri suami”. [HR Muslim: 885 (4)].

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,
“Karena kalian suka banyak mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal
dan agama seseorang di antara kalian dapat menghilangkan akal seorang lelaki yang bijak wahai
kaum wanita”. [HR al-Bukhoriy:1462 dan Ahmad: II/ 87. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].
[108]

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Karena kalian suka banyak
mengutuk, mengkufuri suami dan aku juga melihat berkurangnya akal dan agama seseorang di
antara kalian dapat menghilangkan akal seseorang yang bijak”. [HR Muslim: 79, al-Bukhoriy: 304,
1951, 2658, Ibnu Majah: 4003 dan Ahmad: II/ 66-67. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [109]

Dari Abdullah bin Abbas bahwasanya ia berkata, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, “Karena kufur kepada suami dan kufur pula kepada perbuatan baik. Jikalau engkau
berbuat  baik  kepada  seseorang  di  antara  mereka  sepanjang  masa,  lalu  ia  melihat sesuatu
(keburukan) darimu ia berkata, “Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun”. [HR al-Bukhoriy: 29, 431, 748, 1052, 3202, 5197 dan Muslim: 907]. 

Di antara sifat buruk wanita lainnya adalah suka banyak menuntut, sehingga dengan tuntutannya
itu suaminya bisa terjerembab ke dalam kubangan dosa. Misalnya, menuntut harta yang berlebih
padahal pendapat suaminya tidak mendukungnya, maka tuntutannya itu bisa menyebabkan
suaminya korupsi. Menuntut suaminya selalu hadir dalam setiap kegiatannya, padahal tuntutannya
itu dapat menyebabkan suaminya tidak bisa bersilaturrahmi kepada kedua orangtuanya, saudara-saudara dan teman-temannya. Menuntut suaminya untuk menceraikan madunya jika suaminya
mempunyai lebih dari satu orang istri agar terpenuhi segala kebutuhannya, padahal tuntutannya
itu dapat menyebabkan suaminya berbuat zholim kepada istrinya yang lain. Dan lain sebagainya.
Semua tuntutan wanita terhadap suaminya tersebut boleh jadi akan menyusahkan dan menyakiti
perasaannya. Oleh karena itu, istiri yang baik lagi shalihah itu lebih suka melihat kekurangan dirinya
daripada kekurangan suaminya dan orang lain, agar ia berusaha untuk memperbaiki dirinya
semampunya.

Dari Abu Hurairah berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang wanita meminta
(suaminya) untuk menceraikan saudarinya (atau madunya) agar terpenuhi apa yang ada di dalam
bejananya. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla yang memberikan rizki kepadanya”. [HR
Muslim: 1408 (39), 1413 dan al-Bukhoriy: 2140. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih]. [110]

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, pernah ditanyakan kepada Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang
hari,  mengerjakan  (berbagai  kebaikan)  dan  bersedekah,  hanyasaja  ia  suka  menyakiti  para
tetangganya dengan lisannya?. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Tiada kebaikan
padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Mereka bertanya lagi, “Sesungguhnya si Fulanah (yang
lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah
menyakiti seorangpun?”. Bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Dia termasuk penghuni
surga”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrod: 119, Ahmad: II/ 440, al-Hakim: 7384 dan Ibnu
Hibban. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [111] 

Jika menyakiti tetangga saja dapat menyebabkan seorang wanita masuk ke dalam neraka, padahal
ia  gemar  mengerjakan  berbagai  ibadah semisal  sholat,  berpuasa,  bersedekah  dan  berbagai
kebaikan lainnya. Maka bagaimana dengan wanita yang gemar menyakiti hati suaminya yang tinggal
serumah dengannya?. Maka renungkanlah..
Disqus Comments

Postingan Populer