Khamis, 7 Februari 2019

faidah Liqa' Maftuh - 13 Ringkasan Dakwah Salafiyyah

[RINGKASAN FAIDAH LIQA' MAFTUH BERSAMA FADHILATUSY SYAIKH WALID SAIFUN NASHR -HAFIZHAHULLAH-, tgl: 11 Jumadal Ula 1440 H / 17 Januari 2019 M, Darek Lombok Tengah]

(1)- Mengikuti Manhaj Salaf Adalah Sebesar-besar Nikmat Allah Atas Seorang Hamba.

Mengikuti Manhaj Salaf adalah sebesar-besar nikmat atas hamba setelah nikmat Islam. Nikmat ini membutuhkan dari kita tambahan rasa syukur dan terus menerus bersyukur agar (Allah) tidak menghilangkan nikmat ini dari kita, karena dakwah salafiyyah adalah dakwah yang hakiki (yang mengajak kepada) ajaran Islam yang pertama (yang murni) yang Allah telah ridhai, sebagaimana dalam firman-Nya:

((...الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ...))

"...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu... " (QS.  Al-Maa-idah: 3).

(2)- Dakwah Salafiyyah Adalah Dakwah Yang Agung.

Dakwah Salafiyyah memiliki kedudukan yang Agung, akan tetapi (keagungan ini menjadi menjadi kecil-pent) karena kesalahan-kesalahan sebagian da'i-nya. Di mana pun dakwah salafiyyah itu lemah dan ahli bid'ahnya kuat; maka kesalahan itu ada pada salafiyyun itu sendiri, bukan dari ahli bid'ah, karena Allah Ta'ala berfirman:

((بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ...))

"Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap..." (QS. Al-Anbiyaa': 18).

((وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا))

Dan katakanlah, "Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap." Sungguh, yang batil itu pasti lenyap." (QS.  Al-Israa': 81).

((...فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ... ))

"...Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi..." (QS. Ar-Ra'd 17).
Jika kebenaran itu menyebar; maka kebatilan pasti lenyap.

(3)- Dakwah Salafiyyah Adalah Dakwah Yang Pasti Menang dan Ditolong Oleh Allah Ta'ala Meskipun Jumlah Orang Yang Mengikutinya Sedikit.

Hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang masyhur di kalangan salafiyyin, (yaitu sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam):

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق، لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم...

"Akan senantiasa ada dari ummatku satu golongan yang berada di atas kebenaran; mereka menang (dengan pertolongan dari Allah-pent), tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka, dan tidak pula orang-orang yang menyelisihi mereka... "

Ini menunjukkan jumlah mereka sedikit, (akan tetapi) mereka berada di atas kebenaran dan mereka menang. Mereka dimenangkan oleh Allah dengan kebenaran yang mereka berada di atasnya. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka dari firqah (kelompok) selain mereka, dan tidak pula orang yang menelantarkan mereka dari kalangan salafiyyun (sendiri). Allah menolong (memenangkan) mereka bukan karena kehormatan (pangkat atau kedudukan), bukan dengan harta, bukan pula dengan yang lainnya, tapi dengan kebenaran yang mereka berada di atasnya.

(4)- Da'i Salafiyyin -walhamdulillah- pada hakikatnya merekalah da'i yang sebenarnya, dan dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang sebenarnya.

(5)- Sifat Atau Ciri Orang Yang Mendakwahkan Kebenaran.

Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- menjelaskan sifat-sifat da'i yang mengajak kepada kebenaran:

"Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan pada setiap zaman kekosongan rasul; adanya sisa-sisa para ulama yang mendakwahkan orang-orang yang tersesat kepada jalan yang lurus, mereka bersabar terhadap gangguan manusia yang menimpa mereka. Mereka menghidupkan hati-hati yang mati dengan Kitabullah (Al-Qur'an), menjadikan orang yang buta (hatinya-pent) bisa melihat dengan Cahaya Allah. Betapa banyak korban-korban Iblis yang telah mereka hidupkan, betapa banyak orang yang sesat yang telah mereka tunjukkan ke jalan yang lurus, betapa baiknya jasa mereka kepada manusia, namun betapa jeleknya balasan manusia kepada mereka. Mereka menghilangkan penyelewengan terhadap Kitabullah dari orang-orang yang melampaui batas, penyandaran orang-orang yang berbuat kebathilan, dan takwil orang-orang yang jahil... "

(6)- Para Imam Kaum Muslimin Telah Menjelaskan Manhaj Salaf.

Para Imam dari kalangan Kibaarul Ulama yang telah memiliki pengalaman yang panjang, serta ilmu dan pengetahuan yang kuat; telah menjelaskan kepada kita manhaj dan jalan (dakwah salafiyyah) ini. Apa yang kita alami (sekarang ini) berupa: demonstrasi, demokrasi, politik, (dan seterusnya); mereka semua telah mengalaminya, mengetahui hakikat dan kemudharatannya, dan mereka telah memperingati kita dari (bahaya)nya dengan berdasarkan ilmu, bashirah, dan pemahaman (yang mendalam-pent). (Oleh sebab itu), hendaklah kita senantiasa berada di atas jalan dan manhaj mereka. Kita ini kecil, meskipun di antara kita ada yang sudah beruban, tapi dibandingkan dengan mereka kita adalah kecil. Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

البركة مع أكابركم.

"Keberkahan itu bersama orang-orang tua di antara kalian."

Ikutilah para ulama kibar, maka kalian pasti akan beruntung -dengan idzin Allah-.

'Umar bin Khaththab -radhiallahu 'anhu- berkata: "Sungguh aku mengetahui kapan manusia (kaum muslimin) itu menjadi baik dan kapan mereka rusak. (Yakni): jika fiqih (pemahaman) itu datang dari yang muda, maka dia akan ditentang oleh yang tua, namun jika fiqih (pemahaman) itu datang dari yang tua, maka dia akan diikuti oleh yang muda; maka keduanya akan terbimbing ke jalan yang lurus."

(7)- Di Antara Ciri Kemunduran Dakwah Salafiyyah.

Dahulu, jika seorang salafi mendengar sebuah sunnah atau hadits yang shahih; mereka langsung mengamalkannya, berbeda dengan (orang yang mengaku salafi) di zaman ini, jika dia mendengar sebuah sunnah atau hadits, dia mengatakan: masalah ini diperselisihkan oleh para ulama, ini menyelisihi jumhur, Imam fulan madzhabnya begini dan begitu. Ini adalah kemunduran -wal 'iyaadzu billah-, dan Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- berlindung dari kemunduran setelah kemajuan.

(8)- Dakwah Salafiyyah Tidak Akan Pernah Tegak Kecuali Dengan Kitabullah (Al-Qur'an), As-Sunnah Dan Pemahaman Salaf.

Bukan dengan perkataan ulama fulan dan fulan, bukan juga dengan madzhab Imam fulan dan fulan.

Tegaknya, terangkatnya, dan tersebarnya dakwah salafiyyah adalah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-. Maksudnya adalah dengan mengamalkannya, bukan sekedar membaca dan menghafalkannya. Maka barangsiapa yang ingin dakwah salafiyyah ini terangkat (menang) dan tersebar; hendaklah dia mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-.

Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقوانا ويضع به آخرين.

"Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Kitab (Al-Qur'an) ini suatu kaum, dan merendahkan dengannya kaum yang lain."

Beliau juga bersabda: "Tidak ada seorangpun nabi melainkan Allah berikan kepadanya sesuatu (mukjizat) yang dengannya manusia beriman kepadanya. Dan (mukjizat) yang diberikan kepadaku adalah Wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah), Allah mewahyukannya kepadaku. Maka aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat."
Yakni dengan perantara Al-Qur'an dan As-Sunnah.

(9)- Dakwah Salafiyyah Adalah Dakwah Yang Kuat.

Sebuah Qaidah yang tidak pernah berubah, yaitu: Bahwasanya Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang kuat dengan dzatnya sendiri, bukan dengan manusia, bahkan para pengikutnya adalah orang-orang yang lemah, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an dan Hadits. Maka, janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa Dakwah Salafiyyah ini rakus kedudukan, orang-orang kaya, dan orang-orang yang memiliki pangkat dan jabatan, kemudian engkau pergi kepada mereka dan berharap kepada mereka untuk menolong dakwah ini.

Nabi pernah melakukan hal ini, yakni beliau lebih memperhatikan orang-orang yang memiliki kedudukan dan mengabaikan Ibnu Ummi Maktum, maka Allah menurunkan ayat yang mencela perbuatan beliau tersebut (sebagai teguran keras kepada beliau).

Jangan pedulikan dan jangan sibukan diri dengan orang-orang kaya, orang-orang yang memiliki pangkat dan jabatan tersebut, karena Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang ditolong (oleh Allah) dengan kebenaran, bukan dengan individu, bukan dengan banyaknya orang, bukan pula dengan harta.

Jika engkau tidak menoleh kepada hal-hal tersebut -harta, dunia, dan orang-orang yang memiliki pangkat dan jabatan- maka hal-hal tersebutlah yang akan mendatangimu. Namun jika engkau bergantung kepadanya, maka engkau akan diserahkan kepadanya dan engkau akan ditelantarkan (tidak ditolong) dan akan terjadi di balik semua itu pengaruh yang sangat jelek. (Di antaranya): engkau akan diperbudak olehnya, engkau akan menyianyiakan dakwah dan engkau akan mengeluarkan fatwa demi mencari keridhaan-nya; meskipun Allah murka, dan engkau berharap agar diberikan harta, dan (kerusakan-kerusakan) yang lainnya. Maka bersihkanlah dirimu dan dakwahmu dari hal-hal semacam ini.

(10)- Dakwah Salafiyyah Tidak Melihat Kepada Kuantitas.

Dakwah Salafiyyah tidak ditolong (dimenangkan oleh Allah) dengan banyaknya jumlah orang yang mengikutinya, bahkan para ulama tidak melihat kepada banyaknya orang, karena mereka berdakwah bukan untuk mencari banyaknya pengikut, sebagaimana yang terjadi sekarang ini. (Yakni banyak para da'i yang berdakwah demi mencari banyaknya pengikut), sehingga:
-dia menyampaikan apa-apa yang tidak menimbulkan masalah; supaya dia disukai oleh manusia,
-dia berusaha mencari keridhaan manusia, meskipun Allah murka,
-dia menyampaikan apa-apa yang membuat orang senang,
-dia memilih tema-tema (kajian) yang sesuai dengan keinginan (permintaan) mereka.

(11)- Banyak Para Da'i di Zaman ini Terbagi Menjadi Dua:

Pertama: Ada yang menyangka bahwa orang-orang akan mengikuti dakwah salaf ini dengan canda tawa, maka ketika berdakwah dia berusaha bagaimana agar orang tertawa, sehingga orang datang ke majlisnya bukan untuk menuntut ilmu, tapi untuk tertawa.

Kedua: Ada yang menyangka bahwa orang-orang akan mengikuti dakwah salaf ini dengan tangisan, maka ketika berdakwah dia berusaha bagaimana membuat orang menangis, sehingga orang datang ke majlisnya bukan untuk menuntut ilmu, tapi untuk manangis.

Mereka menjadikan dakwah sebagai permainan. Ada da'i yang membuat tertawa dan ada da'i yang membuat menangis.

Dakwah tidak seperti itu. Kita harus faham tentang dakwah ini. Yakni, kita harus faham: apa yang wajib kita sampaikan, dan apa yang wajib diamalkan oleh manusia (dari perkara agama ini), itulah yang kita sampaikan kepada mereka. Da'i-lah yang mengarahkan (mengatur) manusia (mad'u), bukan mad'u yang mengatur para da'i. Da'ilah yang mengarahkan manusia (mad'u) sesuai dengan manhaj yang syar'i yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

(12)- Seorang Da'i yang telah mulai berdakwah tidak boleh mundur dari jalan dakwah dengan alasan bahwasanya dakwah ini berat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- menyamakan hal tersebut dengan "Lari dari medan perang."

Seorang da'i yang lari dari dakwah tidak akan memudharatkan kecuali dirinya sendiri.

(13)- Memperbaiki Tawakkal kepada Allah dalam berdakwah.

Tawakkal kepada Allah dalam masalah dakwah adalah termasuk perkara yang paling penting, namun banyak yang melalaikannya.

Tawakkal kepada Allah dalam berdakwah lebih penting dari pada tawakkal kepada-Nya dalam masalah rizki dan perkara-perkara yang bersifat duniawi. Akan tetapi jangan taqshir (kurang maksimal) dalam berdakwah, dan jangan sekali-kali berdakwah dengan menggunakan wasilah-wasilah yang tidak syar'i, seperti dengan nasyid-nasyid, dan yang lainnya.

Tawakkallah kepada Allah, maka Dia akan mencukupimu dan memudahkan jalanmu.

-Diringkas oleh: Abdul Aziz bin Ahmad (Abu Adam)-

Disqus Comments