Isnin, 4 Mac 2019

Syarat diterima Amal Sholeh - Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat

SYARAT DITERIMANYA AMAL SHALIH

     Ulama kita telah membuat satu dasar atau kaidah yang menjadi asas di dalam islam atas diterimanya sesuatu amal ibadah. Mereka menetapkan bahwa suatu amal itu diterima (maqbul) disisi Rabbul 'Alamin apabila telah memenuhi dua persyaratan besar yaitu:

     Pertama:   Amal ibadah itu dikerjakan semata-mata karena Allah (lillah).

     Kedua:   Mengikuti Sunnah Nabi yang mulia shallallahu alaihi wassallam.

     Apabila kedua syarat atau salah satunya tidak terpenuhi mak amal tersebut tertolak (mardud). Kaidah ini mereka (para ulama) buat berdasarkan dalil-dalil dari al-Kitab  (al-Qur'an) dan Sunnah Nabi yang mulia shallallahu alaihi wassallam bersama Syarah (penjelasan) dari ahli Ilmu.
(Baca 📚Tafsir Ibnu Katsir: 1/154 dan 559, 3/108)

     Dibawah ini saya turunkan dalilnya satu persatu:

DALIL PERTAMA:
     Allah azza wajalla berfirman:

" (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapakah diantara kamu yang terbaik amalnya."
(📚QS: al-Mulk: 2)

     Allah subhanahu wa ta'ala tidak katakan "Yang Paling Banyak Amalnya" akan tetapi "Yang Paling Baik Amalnya". Apakah yang dimaksud di dalam firman Allah ini kita serahkan tafsirnya kepada Fudhail bin 'Iyadh dalam menafsirkan ayat yang mulia ini:

     Fudhail bin 'Iyadh rohimahullah berkata:
"Yang paling ikhlas dan yang paling benar."
Mereka bertanya:

"Wahai Abu Ali (panggilan kun-yah  bagi Fidhail) apakah yang dimaksud dengan yang paling benar dan yang paling ikhlas."
Jawab Fudhail:

"~Sesungguhnya amal itu apabila dikerjakan dengan ikhlas akan tetapi tidak benar niscaya tidak akan diterima.
~Dan apabila amal itu dikerjakan dengan benar akan tetapi tidak ikhlas niscaya tidak akan diterima sampai amal itu dikerjakan dengan ikhlas dan benar.
~Dan yang dimaksud dengan Ikhlas ialah amal itu karena Allah (lillah).
~Dan yang dimaksud dengan benar ialah amal itu atas dasar Sunnah.

     Diriwayatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya "al-Iqtidha' hal: 451-452". Selanjutnya beliau mensyarah perkataan Fudhail diatas yang intinya bahwa dua dasar diatas merupakan pembenaran dari Syahadatain yang kedua menjadi pokok islam.

     Fudhail bin 'Iyadh rohimahullah adalah seorang Tabi'ut tabi'in. Imam yang tsiqah dan masyhur dengan kezuhudan dan badahnya. Seorang rawi yang dipakai oleh al-Imam al-Bukhari rohimahullah dan al-Imam Muslim rohimahullah dan lain-lain.
(📚Tahdzibut Tahdzib: 5647)

📚Al Masaa-il [Masalah-Masalah Agama] Jilid 2 hal: 251-252
Oleh: al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafidzahullah


Disqus Comments